Langsung ke konten utama

Unggulan

Hallo Jakarta

 


                               (Blog yang telat banget ditulis — tapi masih relevan, kok 😆)


"Hallo Jakarta", sebuah kalimat sambutan untukku dan sebuah kalimat juga yang jadi awal mula kami berkenalan

Jadi begini, sudah lima bulan aku di Jakarta. LIMA, guys. Setengah tahun kurang dikit. Dan sekarang baru aku sempat menulis tentang kota ini. Bukan karena lupa, tapi karena… ya begitulah, hidup di Jakarta itu kayak naik MRT , cepat, padat, dan kalau kamu bengong sedikit, bisa kelewatan stasiun tujuan.

Awalnya aku ke Jakarta buat satu misi besar yaitu untuk ngejar mimpi buat kerja kapal pesiar dengan latar belakang sebagai Pastry Chef. Tapi sebelum naik kapal, saya harus melewati “laut” lain dulu yang tidak lain adalah lautan manusia di Jakarta.

Kota ini bener-bener ya rame banget! Bahkan ayam pun kayaknya malu buat berkokok di sini, takut kalah volume sama suara klakson. Dan tolong ya, aku nggak nyangka bakal ketemu pengamen dengan kode QR di speaker-nya!

Serius, bukan kaleng-kaleng ini kota. Pengamennya bukan cuma nyanyi, tapi juga siap nerima transfer digital. Gila, inovatif banget. Mereka punya sound system yang bahkan lebih gede dari kulkas kost-ku. Jadi jangan heran kalau kamu lagi bengong di halte, tiba-tiba ada suara Adele versi koplo menggema dari arah yang nggak jelas. 

Tapi hal yang paling lucu dan agak menakutkan dari Jakarta adalah senyum itu berisiko. Senyum dikit, besoknya langsung minta pinjaman uang, jadi malas kenalan sama orang baru.

Okeh, jadi, pelajaran pertama di Jakarta, jaga raut muka! Kalau ketemu orang baru, ekspresinya cukup "netral aja, secukupnya. Karena, niat baik bisa berakhir di modus.

Aku pernah tuh, di halte Senen Toyota Rangga, lagi nunggu bus. Tiba-tiba ada kakek datang, nanya arah jalan. Dia nepuk bahu aku, sumpah itu bikin kaget banget. Padahal banyak banget pramuniaga lain di situ yang bisa dia tanya tapi dia ngebet banget nanya ke aku.

Insting waspadaku langsung menyala, bilang dalam hati, “awas, ini jebakan hipnotis!”

Aku jawab cepat si Kakek, “Maaf pak, saya bukan orang sini,” terus pergi menjauh.

Eh dia sempat nyeletuk, “Sombong amat sama orang tua.”

Dalam hati saya hanya bisa menjawab, “Maaf, Pak… saya hanya takut tiba-tiba jadi transfer 50 juta ke rekening orang yang tidak dikenal.” (walaupun nggk punya saldo segitu, sekarang , hahaha) 😭 🤣

Tapi ya, meski keras dan penuh trik, Jakarta itu menarik. Kamu harus cerdas, cekatan, dan punya radar curiga yang kuat. Tapi dibalik itu, kota ini ngajarin satu hal penting:

kalau kamu bisa bertahan di Jakarta, kamu bisa bertahan di mana pun. 

Ngomong-ngomong soal bertahan, aku sudah pindah-pindah tempat tinggal kayak pemain sinetron pindah lokasi syuting. hahaha.

Awal datang,  aku tinggal di Jakarta Pusat. Masih polos, masih semangat, masih percaya kalau “hidup di ibu kota itu keren.” 

Eh, dua minggu kemudian, aku sadar keren itu relatif. Yang keren cuma AC kantor, selebihnya panas. Dan ngomong-ngomong soal Jakarta, ada satu hal yang juga aku pelajari dengan cara pahit dan ini penting banget yaitu:

Tanya harga dulu sebelum beli makan! Serius, ini penting banget!

Waktu awal-awal datang, aku masih polos, ada satu waktu aku merasa lapar, lihat penjual gerobakan di daerah pecenongan pinggir jalan jual mihun goreng, berpikir murah.

Aku pesan satu piring mihun goreng pakai ayam (suir, dikit banget padahal) tambah jus alpukat. Makan dengan damai, senyum-senyum sendiri.

Waktu bayar… “Tujuh puluh ribu, kak.”

DEG.

Aku sampai mikir, “Mihun aku pake emas ya, Bang?”

Tapi waktu itu belum tahu adat Jakarta, jadi ya udah, langsung bayar sambil nelan harga bersama mihun terakhir di tenggorokan. Sekarang sih udah pinter, kalau mau beli makan atau apa pun harus tanya harga dulu!

Dan kalau kamu mau makan di warteg, inget ya: cari yang bersih. Karena warteg itu jujur ​​aja, levelnya banyak banget. Ada yang murah dan nikmat, tapi ada juga yang membuat kamu mikir ulang tentang sistem imun. Ciri warteg bagus biasanya: ada wastafel di depan, lantainya kinclong, dan lauknya nggak diserbu lalat.

Trik bertahan hidup lainnya di Jakarta adalah

Kalau mau beli air galon kayak Le Mineral atau Aqua, beli langsung di Indomaret atau Alfamart. Jangan sembarangan di pinggir jalan, karena… banyak air oplosan! Harganya sama, tapi rasanya kayak air got yang disaring dengan niat setengah. Aku pernah nyoba sekali, dan sumpah, itu pengalaman yang nggak mau kuulang. 😭






Soal tempat tinggal, aku juga pindah-pindah kayak nomaden versi urban, hahaha. Setelah dari Jakpus aku pindah ke Jakarta Barat, tepatnya di Cengkareng. Karna keterima kerja disana, lumayan bisa cari uang dan pengalaman, sambil menunggu jadwal interview visa Amerika.

Nah, ini fase aku jadi anak kos sejati. Air di kosannya, Ada endapan Hitam dibawah setelah ditinggal lama dan rasanya asin, kayak gabungan antara kopi gagal sama air laut. Ampun dah. 

Hujan dikit aja, udah kayak kolam renang dadakan di depan kost. Tapi ya, hidup terus berjalan, aku juga bekerja sambil menunggu jadwal wawancara visa Amerika. Jadi harus bertahan dengan dua kondisi tersebut. Setelah beberapa bulan di Jakarta Barat aku pun pindah.

Coba tebak aku pindah kemana? Aku pindah ke Jakarta Selatan! Yes, akhirnya jadi anak Jaksel guys!

Vibes-nya beda banget. Orang-orangnya modis semua, bahkan tukang parkir pun, outfitnya skena parah. Jaksel itu kayak kota yang punya filter aesthetic bawaan. Ngopi di Blok M, nongkrong dikit, langsung berasa hidup ini kayak punya makna lagi. Dan yang paling penting sejauh pengalaman ngekost airnya bersih.

Nongkrong kece, dan orang-orangnya berpenampilan kayak majalah berjalan. Pokoknya, aku betah banget di sini. Sayangnya, Aku hanya tinggal satu bulan di Jaksel, karena ada tawaran kerja di Jakarta Pusat.

Balik ke Jakpus ternyata nggak seburuk bayanganku. Justru aku betah banget disini. Banyak makanan murah, akses mudah, dan paling penting, dekat dari Pasar Senen. Aku sering belanja buah di sana, harganya jauh lebih murah. Dan ada Pasar Kue Subuh, wah… surganya jajanan murah dan enak! Ada donat kampung, lemper, risol, pastel, semuanya dengan aroma nostalgia masa kecil. Tempat yang kacau tapi bikin bahagia.

Sekarang kalau aku pikir-pikir, lima bulan ini kayak mini drama kehidupan: ada tawa, ada deg-degan, ada sedikit tragedi mihun 70 ribu. Tapi semuanya bikin aku makin paham. Jakarta keras dan banyak hal lucu yang bisa aku pelajari kalau aku mau buka mata.

Kota ini ngajarin aku untuk selalu waspada tapi tetap bersyukur dan meski aku belum tahu kapan bakal naik kapal menuju mimpi itu, tapi aku tahu satu hal:

Jakarta sudah menjadi bagian penting dalam perjalanan karirku.

Jadi, "Halo, Jakarta". Terima kasih sudah jadi tempat aku belajar bertahan, dengan gaya yang absurd tapi berkesan. Kalau nanti aku sudah berlayar jauh, aku bakal ingat kota ini. Kota yang ngajarin aku cara bertahan hidup, hanya dengan dua prinsip:

Tanya harga dulu dan jangan gampang senyum. 😆

Terima kasih sudah jadi tempat aku belajar kuat — dengan cara yang paling keras tapi paling jujur. Dan buat kamu yang baru mau datang ke Jakarta, pesanku cuma satu:

Boleh membawa mimpi besar, tapi jangan lupa membawa logika dan powerbank cadangan.

Kamu bakal butuh dua-duanya.


Komentar

Postingan Populer