Langsung ke konten utama

Unggulan

Bersembunyi Dibalik Kata Introvert


Kalau kamu punya anjing dan kucing di rumah, coba deh kasih mereka kejutan.
Misalnya, hadiah makanan atau mainan baru.
Anjing biasanya langsung heboh — loncat ke sana ke mari, ekornya nggak berhenti goyang, matanya berbinar seolah dunia ini penuh cinta dan kejujuran.
Sementara kucing? Dia mungkin cuma melirik sekilas, mendekat perlahan, lalu mencium benda itu tanpa ekspresi. Tapi anehnya, besok-besok dia akan mainin benda itu diam-diam.

Dan aku rasa, aku lebih mirip kucing.
Bukan karena nggak bisa senang, tapi karena caraku mengekspresikan bahagia memang nggak selalu terlihat.


Dulu waktu kecil, aku sering banget minta hadiah — mobil-mobilan, pesawat-pesawatan, pokoknya mainan khas anak laki-laki. Tapi jarang banget dikabulin.
Ibuku seorang penjahit. Aku masih ingat banget, kalau lagi kerja, keringatnya bercucuran, gambaran itu masih ada di memori otakku sampai sekarang. Dulu kalau mau makan lauknya ikan asin, aku pasti ngambek dan gak mau makan, saat itu juga Ibuku hentikan pekerjaannya dan pergi ke pasar untuk beli ikan kesukaanku. Lalu dimasaknya dan disuapinya aku makan. Sejak saat itu aku merasa bersalah karena sudah ngambek, nggak mau makan. 

Ada satu momen yang selalu kuingat juga. 
Waktu itu kami ke pasar, dan aku minta mainan robot power rangers kecil. Ibuku menatapku sambil tersenyum, tapi di wajahnya kelihatan lelah dan peluh yang jatuh dari dahinya.
Entah kenapa, tiba-tiba aku merasa iba. Aku nggak jadi minta. Dari saat itu juga aku udah nggak minta apa-apa lagi kalau diajak ke pasar.

Sejak itu, aku belajar buat nggak terlalu berharap banyak.
Kalau mau sesuatu, aku harus sabar nabung, atau nunggu Natal dan Tahun Baru pas dapat THR.
Lama-lama aku terbiasa menahan keinginan, terbiasa ngerti situasi, terbiasa jadi “dewasa” sebelum waktunya.


Mungkin karena kebiasaan itu juga, saat dewasa aku tumbuh jadi orang yang nggak suka ribut, nggak suka debat, dan paling males terlibat konflik.
Kalau ada suasana yang panas, aku lebih milih mundur.
Kalau ada teman yang berisik, aku lebih senang diem dan dengerin.
Dan kalau ditanya kenapa, jawabanku simpel: “Aku introvert aja.”

Padahal kadang bukan soal kepribadian.
Aku cuma udah terlalu terbiasa buat tenang, buat ngerti, buat nggak nyusahin orang.
Aku nggak selalu pendiam karena nggak punya pendapat, tapi karena sering ngerasa, “nggak usah deh, nggak penting juga kalau ujungnya bikin ribut.”

Dan satu lagi kalau hal itu nggak ada hubungannya dengan aku, aku ngerasa itu buang waktu, apalagi sama drama, big no banget to drama. Kadang aku jahat juga sih , ngejek mereka di dalam otakku, bodoh, tolol banget sih, gitu aja diributin. Wkwk.


Aku punya teman kok, tapi nggak banyak. Bisa dibilang, cukup dihitung jari.
Tapi mereka yang ada, benar-benar tahu siapa aku.
Bersama mereka, aku bisa ketawa tanpa harus menjelaskan siapa diriku sebenarnya.
Aku nggak perlu pura-pura ramai atau bersemangat, cukup jadi diri sendiri yang kadang lebih nyaman diam tapi hadir.

Dan mungkin, di situlah nyamannya jadi “introvert.”
Bukan berarti nggak butuh orang lain, tapi cuma lebih milih lingkungan kecil yang aman dan hangat.


Kadang aku sadar, kata “introvert” ini seperti tempat persembunyian.
Tempat aku berlindung supaya nggak harus menjelaskan kenapa aku lebih suka sendiri, kenapa aku nggak langsung akrab, atau kenapa aku jarang marah meski sebenarnya kesal.

Tapi semakin ke sini, aku juga sadar kalau bersembunyi bukan hal yang salah.
Justru di balik diam itu, ada banyak hal yang tumbuh: pengertian, kesabaran, dan empati.
Mungkin aku begini karena sejak kecil sudah terbiasa dewasa dan mandiri, sudah terbiasa menenangkan diri ketika dunia terasa terlalu ramai.

Dan seperti kucing yang pura-pura cuek saat dapat kejutan, aku pun kadang begitu.
Bukan karena nggak senang, tapi karena aku lebih suka menikmati bahagia itu diam-diam di ruang yang tenang, tanpa banyak sorak.


Banyak orang sering salah paham sama yang namanya introvert.
Mereka pikir kami ini sombong, jutek, atau nggak mau bergaul.
Padahal, yang sebenarnya terjadi adalah kami cuma butuh waktu.
Waktu buat nyaman, waktu buat percaya, dan waktu buat merasa aman.

Orang introvert itu sebenarnya baik.
Kami peduli, cuma kadang nggak tahu cara nunjukinnya.
Kami mikirin perasaan orang lain, tapi sering takut salah ngomong.
Kami setia, tulus, dan selalu berusaha hadir dengan cara kami sendiri.

Dan seiring waktu, aku sadar... jadi introvert bukan berarti harus terus bersembunyi.
Semakin dewasa, aku mulai belajar terbuka.
Mulai belajar ngajak ngobrol duluan, mulai berani kenalan dengan orang baru, bahkan sesekali mulai cerita lebih banyak tentang diri sendiri.

Ternyata nggak seseram itu untuk membuka diri.
Karena kadang, orang-orang di luar sana cuma menunggu kita tersenyum duluan dan dari situ, hal-hal baik bisa mulai terjadi.

Jadi kalau kamu lagi berhadapan sama introvert, coba untuk lebih berusaha sedikit lebih effort kalau mau berteman sama mereka. Okedeh sekian blog kali ini, selamat tidur. Have a nice dream. 

Komentar

Postingan Populer