Langsung ke konten utama

Unggulan

Standart Kesopanan Menurut Aku



Hari ini aku diingatkan kembali dengan sebuah kebiasaan lama yang sudah ditanamkan orang tuaku sejak kecil.
Kebiasaan sederhana, tapi begitu dalam maknanya tentang etika dan sopan santun.

Sejak kecil, Bapak dan Mamak selalu mengajarkan banyak hal kecil yang ternyata punya arti besar.
Mulai dari makan harus dengan tangan kanan, memberi atau menerima sesuatu harus tangan kanan, sampai berjabat tangan dengan siapa pun entah lebih tua atau muda juga harus dengan tangan kanan.
Hal-hal kecil yang terlihat sepele, tapi menjadi simbol kesopanan yang dijunjung tinggi bukan hanya di kampung kami di Kabanjahe, Tanah Karo, tapi hampir di seluruh Indonesia.


Aku masih ingat waktu SD entah kelas berapa, lupa tepatnya aku pernah tanpa sadar menerima uang dari saudara dengan tangan kiri.
Mamak yang melihat langsung menegur. Dengan refleks, beliau memukul tanganku sambil berkata,

“Biasakan pakai tangan kanan.”

Tangan kiriku memerah, bahkan sampai malam masih ada bekasnya.
Waktu itu kulitku putih (bukan maksud pamer ya 😅), jadi cap lima jari dari mamak kelihatan jelas.

Malamnya, Bapak pulang kerja dan melihat tanganku. Aku tidak berniat mengadu, tapi waktu ditanya aku jujur bilang,

“Iya, Pak. Dipukul mamak karena nerima uang pakai tangan kiri dari Pak Uda.”

Bukannya dibela, Bapak malah tersenyum kecil dan berkata,

“Makanya pakai tangan kanan. Udah diajari, kan?”

Waktu itu aku cuma mengangguk. Tidak menangis, tidak juga marah.
Aku malah merasa menyesal bukan karena dipukul, tapi karena sudah berbuat tidak sopan kepada orang yang sudah baik padaku.

Malamnya, sambil menatap bekas merah di tangan, aku berjanji dalam hati: aku nggak akan ngulangin hal yang sama lagi.


Saat aku mulai terlelap malam itu, aku tiba-tiba mencium aroma minyak urut.
Aroma khas yang selalu ada di rumah kami minyak kesayangan Mamak yang hanya boleh dipegang olehnya.
Tak lama, aku merasa tangan kiriku diusap lembut, lalu kepala dielus beberapa kali. Aku tak membuka mata, tapi aku tahu… itu Mamak.

Kadang Bapak juga begitu. Kalau pulang malam dan anak-anaknya sudah tidur, beliau akan mencium kami satu per satu.
Entah kenapa, meski pura-pura tidur, aku sering sadar akan momen itu.

Itulah bentuk kasih sayang yang paling tulus dari orang tua.
Teguran, pukulan kecil, nasihat yang diulang-ulang semuanya ternyata berakar dari cinta dan harapan agar anaknya tumbuh jadi manusia yang tahu adab.


Beberapa minggu lalu, aku sempat jadi bahan pembicaraan.
Lucunya, yang ngomong justru sesama laki-laki katanya aku “sok muda” atau “sok jadi adik.”

Aku cuma senyum.
Mungkin karena mereka tidak tahu, sejak kecil aku memang diajarkan untuk selalu menghormati orang yang lebih tua.
Mamak selalu bilang,

“Kalau ada orang yang lebih tua dari kam, panggil abang atau kakak. Jangan panggil nama.”

(Kata “kam” sendiri dalam bahasa Karo adalah bentuk sopan dari “kau.”)

Jadi, panggilan abang dan kakak itu sudah seperti refleks bagiku.
Bahkan sampai merantau dan hidup di tempat yang budayanya beragam, aku masih terbawa kebiasaan itu.
Buatku, itu bukan formalitas itu bentuk penghargaan.

Aku baru berani memanggil nama seseorang kalau dia sendiri yang minta, atau kalau kami sudah benar-benar dekat.
Jadi, kalau aku masih memanggilmu abang atau kakak, artinya aku menghormatimu. Bukan karena aku sok muda tapi karena aku terbiasa sopan.


Mungkin karena hal-hal seperti itulah aku tumbuh jadi pribadi yang cukup teguh.
Aku tidak mudah terbawa omongan orang, tidak gampang panas, dan tidak suka buang energi untuk hal yang tidak penting.
Bukan karena sombong, tapi karena aku lebih suka diam dan berpikir dulu sebelum bereaksi.

Aku tahu, kadang orang salah paham.
Banyak yang mengira aku dingin, pendiam, atau bahkan cuek padahal sebenarnya aku hanya menjaga diri dari konflik dan memilih tenang.
Aku bukan tidak peduli, aku cuma tidak ingin memperkeruh suasana.


Aku sadar, orang-orang seperti aku yang cenderung pendiam dan tenang sering disalahartikan.
Dibilang jutek, sok cuek, atau nggak mau bergaul.
Padahal, sebenarnya kami ini peduli dan hangat, cuma cara mengekspresikannya aja yang berbeda.

Kami nggak langsung terbuka ke semua orang, tapi kalau sudah percaya, kami bisa jadi teman yang tulus dan setia.
Kami juga nggak suka drama, tapi kami akan ada di saat dibutuhkan dengan cara yang tenang dan tulus.

Dan seiring waktu, aku pun berubah.
Semakin dewasa, aku mulai sadar bahwa dunia nggak seseram itu.
Aku mulai berani terbuka, mulai ngajak ngobrol orang baru, bahkan sesekali aku duluan menyapa atau kenalan.

Nggak apa-apa, pelan-pelan aja.
Karena belajar terbuka juga bagian dari proses menjadi versi terbaik dari diri sendiri.


Setiap orang punya cara sendiri untuk menunjukkan rasa hormat dan kebaikan.
Aku tumbuh di lingkungan yang menanamkan kesopanan sebagai prinsip hidup, dan aku bangga membawanya sampai sekarang.

Jadi kalau aku terlihat terlalu sopan, terlalu tenang, atau terlalu hati-hati — mungkin karena aku masih berpegang pada nilai-nilai yang dulu ditanamkan dengan cinta, lewat tangan Mamak dan nasihat Bapak.

Dan kalau kamu pernah disalahpahami hanya karena lebih pendiam atau introvert, ingatlah 
diam bukan berarti tak peduli,
dan tenang bukan berarti lemah.
Kadang, justru di balik ketenangan itulah, ada hati yang paling tulus dan paling kuat. 

Komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

      Hapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer