Langsung ke konten utama

Unggulan

Unfaedah : Fenomenal Anjing dan Sayur Kol


Pagi itu, seperti biasa, aku jalan menuju tempat langganan sarapan: nasi pecel.
Dari jauh, mataku langsung tertuju ke satu titik — ruko kecil dengan aroma sambal kacang yang khas.
Tempat itu nggak cuma jual nasi pecel doang, tapi juga ada tukang ketoprak dan tukang gorengan di depannya.
Pokoknya kalau lewat situ, bau gorengan dan bumbu kacangnya bisa langsung bikin perut protes.

Begitu sampai, aku lihat ada tiga cewek berhijab lagi makan nasi pecel dengan lahap.
Aku maklum, mungkin mereka baru pulang kerja dan belum sempat makan dari pagi.
Beberapa menit kemudian, ibu penjual keluar sambil senyum ramah.

“Mau apa, Nak?” tanyanya.
“Nasi pecel, Buk,” jawabku.
“Pake lauk apa?”
“Pake ayam aja, Buk.”

Dan di situlah kejadian lucu (atau aneh?) itu terjadi.

Tiba-tiba si abang tukang ketoprak di depan langsung nyeletuk dengan nada nyanyi:

“Kok pakai daging ayam? Daging anjing lah~”

Dia lanjut nyanyi sambil goyang dikit:

“Makan daging anjing… dengan sayur kol…”

Suara si abang agak cempreng, tapi ekspresinya total banget.
Aku refleks nengok ke arah tiga cewek yang lagi makan tadi — dan benar aja, salah satu dari mereka hampir muntahin nasi pecelnya.
Mungkin kaget, atau mau ngakak atau mungkin juga jijik.
Maklum lah, buat umat Muslim, “anjing” itu kan haram. Dan lagunya juga terlalu random buat situasi sarapan yang tenang itu.

Aku cuma bisa senyum kecil.
Lucunya, lagu itu memang lagi viral banget, sampai-sampai keluar dari mulut orang di mana-mana,  bahkan di depan ruko nasi pecel.


Sambil nunggu pesanan, aku jadi kepikiran.
Lagu “anjing dan sayur kol” ini udah kayak penyakit menular.
Masuk ke kepala banyak orang, diulang-ulang, sampai kayaknya udah mendarah daging.

Aku nggak munafik, waktu pertama kali liat videonya di media sosial, aku juga sempat ketawa.
Lucu sih, apalagi pas bocah kecil yang nyanyiin lagu itu dengan polos.
Tapi buatku, lucunya cukup sampai situ aja.
Nggak perlu ikut nyanyi, nggak perlu penasaran cari liriknya, apalagi hafalin.

Masalahnya, nggak semua orang berhenti di titik itu.
Ada yang malah kebablasan, bikin cover, upload ulang, sampai pasang lagunya tiap hari.
Dan yang bikin sedih, lagu itu juga dihafal anak-anak kecil.
Lagu anak-anak yang dulu isinya tentang pelangi, bintang kecil, atau ibu pertiwi… sekarang tergeser sama lagu viral yang bahkan nggak punya pesan penting.

Media sosial memang luar biasa cepat.
Satu hal bisa viral semalam, entah itu berguna atau tidak.
Sayangnya, yang cepat terkenal justru sering hal-hal yang nggak mendidik.


Padahal, banyak banget hal positif yang seharusnya bisa viral.
Misalnya, kisah anak bangsa yang dapat beasiswa ke luar negeri.
Atau atlet Indonesia yang juara dunia.
Bahkan hal-hal kecil kayak seseorang yang rela berbagi di tengah kesulitan pun sebenarnya layak dapat sorotan.

Tapi ya begitulah dunia digital.
Kadang yang berisi malah tenggelam, dan yang receh justru naik ke permukaan.
Lucu ya, tapi juga agak miris.


Dari kejadian kecil di ruko nasi pecel itu, aku jadi sadar — sebetulnya kita punya pilihan:
mau ikut hanyut dalam hal yang viral tapi kosong, atau mulai jadi bagian dari hal-hal kecil yang membawa manfaat.

Aku sering mikir, kalau suatu hari aku punya YouTube channel atau media sendiri, aku pengin bikin sesuatu yang benar-benar punya dampak.
Yang bisa kasih inspirasi buat anak muda, bukan cuma buat lucu-lucuan atau cari sensasi.
Mungkin sekarang aku belum sampai ke situ, tapi aku percaya, langkah kecil pun bisa punya arti kalau niatnya baik.

Buatku, menulis adalah langkah kecil itu.
Menulis biar orang bisa mikir, biar ada sudut pandang lain yang lebih tenang dan positif.


Komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer