Langsung ke konten utama

Unggulan

Dollar vs Rupiah : Ketika Pikiran Kita Menipu





Beberapa bulan lalu, aku dan kakakku, Lipsy, memutuskan buat nonton film horror bareng — Truth or Dare.
Buat yang belum tahu, film ini bercerita tentang permainan yang kelihatannya sepele tapi ternyata berujung maut. Pokoknya agak absurd tapi cukup seru lah buat ngisi malam minggu tanpa pasangan.

Nah, di tengah film, ada satu adegan yang entah kenapa malah bikin aku mikir keras.
Bukan adegan serem, bukan juga adegan tegang, tapi justru… adegan biasa aja.

Jadi, si “Markie”, salah satu karakter di film itu, lagi duduk di sebuah restoran pinggir jalan. Di tembok belakangnya, terpampang tulisan besar:

“Pizza’s Only $4”

Spontan aja aku nyeletuk ke Kak Lipsy,

“Murah banget ya, cuma empat dollar!”

Kak Lipsy cuma nyengir sambil tetap fokus ke layar. Tapi di kepalaku, angka “4 dollar” itu terus muter.
Mungkin karena aku juga punya penghasilan tambahan dari blog, dan nominalnya dibayar dalam dollar. Jadi refleks aja kepalaku langsung menghitung.

Empat dollar, kalau dilihat dari saldo akun blog-ku yang masih ada seratus dollar, ya kelihatannya kecil banget:

100 - 4 = 96 dollar.
Masih sisa banyak, kan? Murah dong.

Tapi ya, nanti dulu… logika “murah” itu ternyata bisa menipu.


Selesai nonton, aku dan Kak Lipsy mampir ke Kangen Cafe. Tempatnya lumayan cozy, musiknya pelan, lampunya hangat — vibes-nya pas banget buat ngobrol ringan setelah nonton film horror yang bikin jantung deg-degan.

Begitu pelayan datang dan kasih tiga buku menu (makanan, minuman, dan desserts), aku langsung buka bagian makanan.
Pilihanku jatuh ke ayam penyet.
Entah kenapa, meski di daftar ada menu “Spaghetti Carbonara” atau “Beef BBQ ala Eropa”, lidahku tetap lidah Indonesia. Ayam penyet tuh kayak panggilan jiwa.

Tapi mataku langsung berhenti di angka harga.

“38K”

Aku bengong.
Lah? Ayam penyet? Tiga puluh delapan ribu?
Biasanya sih di warung pinggir jalan cuma dua puluh ribuan.

Tapi ya udah lah, udah keburu lapar, udah duduk juga, masa mau pindah tempat cuma karena harga.


Lama nunggu, akhirnya makanan datang.
Dan… jujur aja, aku agak kecewa.

Bentuknya ya ayam penyet biasa: sambal, lalapan, tempe, dan nasi.
Nggak ada yang spesial.
Nggak ada plating ala chef Eropa, nggak ada daun garnish bahkan sambalnya pun kayak sambal bawaan emak-emak di rumah.

Dalam hati aku cuma bisa ketawa kecil.

“Ya udah lah, mungkin rasanya yang bikin 38 ribu ini worth it.”

Tapi setelah suapan pertama, kedua, dan ketiga — ternyata…
biasa aja 😅


Selesai makan, kami langsung keluar.
Pas turun ke bawah, kami lewat depan outlet Pizza Hut.
Di situ aku langsung keingat lagi tulisan di film tadi:

“Pizza’s Only $4.”

Otomatis aku refleks buka kalkulator di HP, cuma buat memastikan.
Kalau 1 dollar = sekitar 15 ribu rupiah, berarti 4 dollar = 60 ribu rupiah.

Pizza $4 yang aku pikir “murah banget” tadi, ternyata lebih mahal dari ayam penyet 38 ribu yang aku anggap “mahal banget”.
Aku langsung bengong.

Kenapa ya, saat lihat harga dalam dollar, rasanya murah…
Tapi saat lihat dalam rupiah, rasanya berat?


Ternyata, ini bukan cuma soal angka — tapi soal mindset.
Ketika kita lihat “$4”, otak kita otomatis membayangkan “kecil”, karena angka empat itu kelihatannya ringan.
Tapi begitu dikonversi ke rupiah, nilainya bisa jauh lebih besar.

Sebaliknya, angka “38.000” kelihatannya besar banget, padahal kalau dikonversi ke dollar, cuma sekitar dua setengah dollar aja.

Jadi sebenarnya bukan soal harga barangnya, tapi bagaimana otak kita menilai nilai uang berdasarkan lingkungan ekonomi yang biasa kita hadapi.


Contohnya gini di Amerika, pizza seharga $4 itu dianggap makanan cepat saji yang biasa banget, kayak nasi goreng pinggir jalan di Indonesia.
Sementara di sini, ayam penyet 38 ribu bisa dibilang udah masuk kategori “makan agak mewah” kalau buat mahasiswa atau pekerja kantoran baru.

Tapi menariknya, buat turis asing yang gajinya dalam dollar, makan ayam penyet seharga 38 ribu itu super murah!
Karena buat mereka, 38 ribu cuma 2 dollar-an aja.

Artinya, mahal atau murah itu relatif banget tergantung dari mata uang yang menghidupi kita.


Dari pengalaman sepele itu, aku belajar satu hal:
Kita sering banget menilai sesuatu dari angka, padahal konteks di balik angka itulah yang menentukan makna sesungguhnya.

Kadang yang kelihatan murah belum tentu terjangkau.
Yang terlihat mahal belum tentu membebani.
Sama kayak hidup — yang tampak ringan buat orang lain, belum tentu ringan buat kita.

Jadi mulai sekarang, setiap kali aku lihat harga dalam dollar atau rupiah, aku selalu ingat momen ayam penyet 38 ribu itu.
Bukan karena mahalnya, tapi karena betapa “otak manusia bisa salah persepsi hanya karena simbol uang yang berbeda.”

Dan jujur aja… mungkin, ayam penyet itu sebenarnya nggak terlalu biasa-biasa amat.
Dia cuma kalah branding aja dibanding pizza empat dollar yang kelihatannya lebih keren di film. 


Komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

      Hapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  6. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer