Langsung ke konten utama

Unggulan

Instagram Stories!







Pagi itu, seperti biasa, aku buka Instagram.
Niatnya cuma mau scroll sebentar, tapi seperti biasa juga — yang kulihat malah bikin otakku kerja lebih keras dari biasanya.

Story pertama: 


Si A, dengan gaya khasnya, kedip-kedip ke kamera sambil pasang filter kupu-kupu di pipi.
Aku cuma bisa ngelus dada sambil mikir,

“Emang cuma dia doang yang matanya bisa kedip? Tiap hari juga upload.”

Lanjut story berikutnya:
Si B, update kopi latte art di Starbucks — lagi-lagi. Caption-nya selalu sama:

“Alhamdulillah, rezeki hari ini ☕️.”

Tapi entah kenapa, kok rasanya bukan “syukur” yang aku tangkap, malah “pamer” halus yang dibungkus religius.
Kadang lucu, kadang capek sendiri ngelihatnya.

Terakhir, Si C, story-nya panjang banget. Isinya cuma video dia ketawa bareng temen-temennya di kafe hits.
Aku sih bukan iri, cuma kadang kasian aja sama yang ngelihat tapi lagi nggak seberuntung dia.
Kayak, “kok hidup orang-orang di Instagram bahagia banget, ya?”


Kadang aku mikir, Instagram tuh udah kayak panggung paling sempurna buat pamer sosial.
Semua orang kayak berlomba buat nunjukin versi terbaik dari hidupnya.
Mulai dari makanan, outfit, sampai momen kedipan mata pun diabadikan.

Mungkin buat sebagian orang, nge-post itu bikin mereka ngerasa hidupnya “berarti”.
Kayak semacam “lihat deh, hidup gue nggak seburuk itu kok.”
Atau mungkin biar orang lain tahu kalau mereka bahagia — walau cuma di layar kaca.

Dan ya, mungkin itu salah satu cara mereka untuk bertahan di dunia yang makin bising.
Tapi yang menarik, kadang yang nggak nge-post apa-apa justru dianggap “nggak punya kehidupan”.
Padahal bisa jadi, dia cuma sibuk hidup tanpa perlu pembuktian.


Aku nggak bilang nge-post itu salah.
Aku pun kadang suka upload foto kalau lagi senang, atau hal kecil yang pengin kuingat.
Tapi masalahnya, kita sering ke-trigger sama hidup orang lain tanpa sadar.

Tiba-tiba iri, ilfeel, atau malah ngomel sendiri di kepala:

“Apaan sih, lebay banget.”
“Halah, pamer doang.”
“Kayak dia doang yang bahagia.”

Padahal ya, daripada ngomel-ngomel, mending tanya tiga hal ini ke diri sendiri:

  1. Kenapa aku iri sama dia?
  2. Kenapa aku kesel sama yang sebenarnya nggak ganggu hidupku?
  3. Buat apa aku buang energi cuma buat nggak suka sama kebahagiaan orang lain?

Lucunya, sering kali kita lupa bahwa di balik setiap senyum di Instagram, bisa jadi ada tangis yang nggak pernah di-post.
Kita cuma lihat highlight, bukan behind the scene.


Ambil contoh kasus artis Gading dan Gisel. Dulu mereka terlihat romantis banget di Instagram.
Caption manis, foto berdua, vibes-nya tuh bikin netizen iri sekaligus baper.
Tapi siapa sangka?
Yang kelihatan mesra di layar ternyata nggak sama dengan kenyataannya.
Akhirnya, mereka berpisah dan publik shock.

Itu jadi bukti kecil aja sih, bahwa nggak semua yang tampak indah di Instagram benar-benar bahagia di dunia nyata.


Aku pribadi sih netral.
Nggak mau nge-judge siapa pun yang suka upload tiap hari, karena memang kodrat Instagram ya seperti itu: tempat berbagi momen.
Tapi di sisi lain, aku juga nggak bisa paham sama orang yang gampang iri cuma karena story orang lain.

Kayak…
Kalau kamu lagi down, terus kesel liat story orang bahagia, ya udah tinggal jangan buka Instagram dulu.
Sesimpel itu, kan?
Daripada scrolling sambil ngomel dalam hati, mending fokus perbaiki mood sendiri dulu.


Semua Orang Punya Waktunya Masing-Masing

Percayalah, semua orang punya fase bahagianya masing-masing.

Ada yang sekarang lagi di atas, ada yang masih berjuang di bawah.
Nanti juga tiba waktumu buat upload foto bahagia — tapi bukan buat pamer, melainkan buat mengenang.

Karena sebenarnya, nggak ada yang salah dengan berbagi kebahagiaan.
Yang salah itu kalau kita sibuk iri, sibuk menilai, tapi lupa bersyukur atas hidup kita sendiri.

Jadi ya, biarkan aja orang mau nge-post apa pun.
Terserah mereka mau kedip tiap menit, ngopi tiap jam, atau joget tiap hari.
Selama itu nggak merugikan kita, ya udah — let them be happy.

Karena pada akhirnya, yang paling tenang itu bukan yang paling sering upload kebahagiaan…
tapi yang bisa bahagia tanpa harus di-post ke mana-mana. 



Komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  6. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer