Unggulan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Alive In Your Wonder
I’m Alive in Your Wonder: Tentang Ambisi, Kekurangan, dan Waktu Tuhan
Jujur, aku bukan orang yang sempurna.
Aku punya banyak kekurangan mulai dari sifat introvert yang sering disalahpahami sebagai sombong, sampai pemikiran kritis yang kadang terlihat sok tahu.
Dan masih banyak lagi sisi-sisi “kurang” yang sering bikin aku bertanya-tanya,
“Kenapa sih Tuhan ciptain aku seperti ini?”
Tapi di sisi lain, aku juga punya satu keinginan besar:
Aku ingin meningkatkan kualitas hidupku.
Aku nggak mau hidup biasa-biasa aja.
Aku ingin punya sesuatu yang bisa aku banggakan — bukan untuk sombong, tapi supaya bisa membanggakan keluarga, bisa membuat mereka hidup lebih baik.
Dari dulu aku punya mimpi sederhana tapi besar:
Aku ingin jadi travel blogger terkenal.
Keliling dunia, menulis kisah dari tempat-tempat indah, dan dibayar karena karya.
Tapi ya, sampai sekarang semua masih berproses.
Kadang aku ngerasa Tuhan belum menjawab doaku.
Dan lama-lama aku mulai sadar — mungkin bukan Tuhan nggak dengar, tapi aku yang sedang disiapkan.
Psikolog terkenal Abraham Maslow, pencipta hierarchy of needs, pernah bilang bahwa:
“Manusia tidak akan pernah berhenti mencari makna sampai ia menemukan dirinya sendiri di puncak potensinya.”
Artinya, rasa “banyak mau” itu bukan dosa.
Itu bagian alami dari manusia — tanda bahwa jiwa kita masih hidup dan ingin tumbuh.
Tapi seperti kata Carl Jung, salah satu tokoh psikologi paling berpengaruh di dunia:
“Seseorang tidak akan menjadi tercerahkan dengan membayangkan cahaya, tetapi dengan menyadari kegelapan di dalam dirinya.”
Jadi sebelum aku bisa menerima berkat besar dari Tuhan, aku perlu sadar dulu:
aku punya keterbatasan, aku punya ruang kosong yang harus diisi — bukan oleh ambisi semata, tapi oleh proses pembentukan diri.
Talenta dan Kapasitas
Dalam Matius 25:14–30, Yesus menceritakan perumpamaan tentang talenta.
Seorang tuan memberikan harta kepada tiga hambanya: satu mendapat lima talenta, satu dua, dan satu lagi satu talenta — masing-masing sesuai dengan kesanggupannya.
Kata kuncinya ada di sana: “sesuai dengan kesanggupannya.”
Artinya Tuhan tahu kapasitas setiap manusia.
Dia tidak akan memberi berkat atau tanggung jawab yang melampaui kemampuan kita.
Pendeta Rick Warren, penulis The Purpose Driven Life, pernah berkata:
“Tuhan tidak menuntut kesempurnaan, Dia menuntut kesetiaan. Tugas kita bukan menjadi yang paling hebat, tapi menjadi yang paling taat.”
Dan aku mulai paham, bahwa kekuranganku bukan hukuman, tapi bentuk pengendalian kasih.
Karena kalau semua dikasih sekaligus, mungkin aku belum siap.
Ruangku belum cukup besar untuk menampung semua berkat itu.
Kekurangan, Ruang, dan Waktu
Aku sering memaknai kekurangan
ku sebagai “doa yang belum dijawab.”
Mungkin bukan karena Tuhan lupa, tapi karena “ruangku” belum siap.
Atau mungkin belum waktunya.
Seperti biji yang masih tertanam di tanah — nggak kelihatan, tapi sedang tumbuh.
Tuhan sedang menyiapkan akarnya dulu, supaya nanti ketika tumbuh, pohon itu nggak mudah roboh.
Dan kamu tahu? Di situlah letak keindahan hidup.
Kita berjuang, jatuh, bangkit, dan terus percaya bahwa setiap langkah adalah bagian dari rencana besar Tuhan.
Aku percaya, setiap manusia punya “limit” yang Tuhan kasih — bukan untuk membatasi, tapi untuk melatih kesabaran dan kesetiaan.
Karena dari batas itulah Tuhan menunjukkan kuasa-Nya.
Mungkin sekarang kamu juga sedang menunggu — menunggu impian, jawaban, atau perubahan hidup.
Tapi percayalah, Tuhan nggak pernah telat.
Dia hanya sedang membentukmu jadi pribadi yang lebih kuat untuk menampung berkat yang lebih besar.
Seperti kata Mazmur 37:7:
“Berdiam dirilah di hadapan Tuhan dan nantikanlah Dia; jangan marah karena orang yang berhasil dalam hidupnya.”
Jangan Pernah Padamkan Ambisimu
Ambisi bukan dosa.
Yang salah adalah ketika ambisi berjalan tanpa arah dan tanpa Tuhan di dalamnya.
Kalau kamu punya mimpi besar — kejar!
Tapi jangan lupa untuk berjalan bersama Tuhan, bukan mendahului-Nya.
Sebab berkat itu bukan cuma soal hasil, tapi juga tentang perjalanan yang membentuk iman kita.
Jadi untuk kamu yang sedang lelah tapi belum mau menyerah,
ingatlah ini:
Tuhan tidak menciptakan kamu untuk jadi biasa-biasa saja.
Kamu diciptakan untuk berkembang, melampaui batas, dan jadi saksi nyata dari keajaiban-Nya.
Tetap semangat, karena kita semua sedang berjuang — dan Tuhan sedang bekerja di balik layar.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar
Posting Komentar