Langsung ke konten utama

Unggulan

Not In My Mood!




Not In My Mood

“Nggak semua hal pantas ditanggapi. Kadang diam itu bukan kalah  tapi cara paling elegan untuk menang.”

Kadang, Reaksi Bukan Solusi

Pernah nonton film The Devil Wears Prada?
Ada satu adegan yang selalu aku ingat: ketika Andy Sachs, si asisten baru yang polos, dihujani kritik pedas dari bosnya — Miranda Priestly.
Semua orang di kantor menatap Andy seolah dia gagal total. Tapi Andy nggak balas, nggak meledak, nggak ngeluh di depan semua orang.
Dia cuma diam, menunduk, dan berjanji dalam hati untuk membuktikan dirinya lewat hasil, bukan kata-kata.

Dan ternyata, itu jadi titik balik.
Karena kadang, tidak semua ucapan harus direspons.
Ada waktu di mana kita harus bilang dalam hati:

“Not in my mood.”
“Nggak hari ini.”
“Aku nggak perlu membuang energiku buat hal yang nggak penting.”

Kita hidup di zaman di mana semua orang punya mikrofon.

Satu tweet bisa jadi perang dunia kecil.
Satu komentar bisa menghancurkan harga diri seseorang.

Bahkan beberapa tokoh besar seperti Selena Gomez dan Justin Bieber pernah mengaku depresi karena tekanan komentar jahat netizen.
Ada juga Hana Kimura, pegulat Jepang muda yang meninggal dunia setelah dibanjiri komentar kejam online.
Padahal yang mereka butuhkan cuma sedikit empati — bukan jutaan opini.

Psikolog Albert Ellis, pendiri Rational Emotive Behavior Therapy (REBT), pernah bilang:

“Tidak ada yang membuatmu marah kecuali cara berpikirmu tentang sesuatu.”

Artinya, bukan omongan orang yang benar-benar menyakiti kita — tapi cara kita menanggapinya.
Kalau kita pilih diam, kita sedang memilih untuk menjaga kedamaian mental sendiri.


Lucunya, kadang yang menyakiti bukan orang asing, tapi orang yang kita panggil “teman.”

Di depan manis, di belakang bikin akun palsu, nyebar gosip, atau ngarang cerita biar orang lain ikut benci.

Mereka ini seperti karakter Regina George di film Mean Girls — charming di luar, tapi menusuk di belakang.
Psikolog terkenal Dr. Martha Stout, penulis The Sociopath Next Door, menjelaskan bahwa:

“Beberapa orang merasa hidupnya lebih berarti ketika bisa menjatuhkan orang lain. Mereka butuh kontrol untuk merasa berharga.”

Jadi kalau kamu punya teman seperti itu — bukan kamu yang salah, tapi mereka yang sedang berjuang dengan ketidakamanan diri sendiri.

Kalau kamu kebetulan termasuk orang yang suka iri atau ingin menjatuhkan orang lain — berhentilah sebelum terlambat.
Iri itu racun yang diam-diam membunuh kebahagiaanmu sendiri.
Seperti kata Erich Fromm, psikolog humanistik:

“Orang yang bahagia tidak merasa perlu membenci atau iri, karena mereka sibuk menikmati hidupnya sendiri.”

Kebahagiaan itu nggak bisa kamu curi dari orang lain — kamu harus membangunnya sendiri.


Apa itu teman?

Kita sering salah paham soal arti teman.
Banyak yang mikir teman sejati itu harus selalu ada setiap waktu.
Padahal nggak juga.
Ada yang namanya low-maintenance friendship — pertemanan yang jarang bertemu, tapi tetap tulus dan bisa saling percaya.

Psikolog Dr. Irene Levine, penulis Best Friends Forever: Surviving a Breakup with Your Best Friend, bilang:

“Hubungan pertemanan yang sehat bukan tentang intensitas komunikasi, tapi kualitas kepercayaan.”

Kadang justru teman yang nggak selalu di sisi kamu — tapi percaya dan mendukungmu dari jauh, itu yang paling tulus.
Mereka nggak perlu tahu setiap detail hidupmu, tapi mereka nggak pernah meragukanmu.


Hargai Privasi, Jangan Jadi ‘Pick Me Friend’

Kita sering lupa bahwa bahkan sahabat pun punya batas.
Mereka juga punya hidup sendiri, masalah sendiri, dan waktu sendiri.
Jadi jangan marah kalau mereka nggak bisa selalu hadir.

Dan tolong, jangan jadi teman yang pick me
yang semuanya harus tentang kamu, yang maunya diperhatikan terus, tapi nggak pernah benar-benar peduli balik.

Karena pertemanan sejati itu dua arah: bukan kompetisi perhatian, tapi pertukaran rasa.


Diam Bukan Lemah, Tapi Elegan

Jadi, kalau hari ini ada yang nyindir kamu, ngata-ngatain kamu, atau mencoba menjatuhkanmu —

nggak perlu langsung reaksi.
Kadang cara terbaik untuk menang adalah tidak ikut bermain di level mereka.

Ingat kata Eleanor Roosevelt:

“No one can make you feel inferior without your consent.”
(Tak ada yang bisa membuatmu merasa rendah diri tanpa izinmu sendiri.)


Not In My Mood

Kita nggak bisa mengontrol apa yang orang pikirkan, tapi kita bisa memilih apa yang kita tanggapi.
Karena hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan membuktikan sesuatu kepada orang yang tidak mau mengerti.

Jadi kalau ada yang mencoba memancing, menguji kesabaran, atau menyebar kebencian —
senyum aja, tarik napas, dan bilang dalam hati:

“Sorry, not in my mood.”
“Aku punya hal lebih besar untuk dikerjakan daripada meladeni kebencianmu.”

Dan buat kamu yang masih percaya pada kebaikan,
teruslah jadi versi terbaik dari dirimu — walau dunia berisik. 



Komentar

Postingan Populer