Langsung ke konten utama

Unggulan

Maaf


                                           


Hidup itu bukan soal mencari kenyamanan.
Kadang yang nyaman justru bikin kita berhenti tumbuh, dan yang bikin sakit malah ngajarin kita arti sabar dan empati yang sebenarnya.

Aku baru sadar, seseorang yang bisa menginspirasimu hari ini… belum tentu bisa melakukan hal yang sama besok. Karena manusia itu berubah, baik atau buruk, cepat atau lambat. Everyone can change, sometimes and somehow.

Penulis Amerika terkenal Ernest Hemingway pernah bilang,

“The world breaks everyone, and afterward, some are strong at the broken places.”
(Dunia bisa menghancurkan siapa pun, tapi setelahnya, beberapa orang justru jadi kuat di tempat mereka pernah hancur.)

Dan aku percaya, di situlah letak sisi paling manusiawi dari kita, bagian yang retak, tapi masih mau memperbaiki diri.


Beberapa waktu lalu, aku kenal seorang kakak di tempat kerja. Orangnya ramah banget, suka bantu siapa pun tanpa pamrih, bahkan sering jadi tempat curhat teman-teman lain.
Sampai suatu hari, muncul isu yang nggak enak tentang dia, gosip soal kehamilan di luar nikah.
Tiba-tiba semuanya berubah. Orang-orang yang dulu sering makan bareng, tiba-tiba jaga jarak. Yang dulu sering minta tolong, pura-pura nggak kenal.
Ada yang bisik-bisik, ada yang sengaja menjauh biar “nggak dikait-kaitkan.”

Padahal… kita semua juga manusia, kan?

Aku kasihan banget. Bukan karena aku tahu kebenaran gosipnya (aku nggak tahu), tapi karena aku lihat sendiri gimana dia tetap datang kerja, tetap senyum, tetap nyapa semua orang yang bahkan pura-pura nggak dengar.
Dan waktu semua orang menjauh, aku cuma bisa berpikir: “Kalau suatu hari itu terjadi sama aku, siapa yang masih mau duduk di meja yang sama?”

Jadi, aku putuskan buat tetap ngobrol dan makan bareng dia, kayak biasanya.
Bukan karena aku sok suci atau mau dianggap pahlawan, tapi karena aku tahu rasanya dijauhi. Rasanya dilihat dari satu sisi aja, padahal kita lebih dari sekadar kesalahan.


Psikolog Amerika, Brené Brown, pernah bilang dalam bukunya “Daring Greatly”:

“Empathy is not connecting to an experience, it’s connecting to the emotions that underpin an experience.”
(Empati itu bukan soal memahami pengalaman seseorang, tapi memahami perasaan yang ada di balik pengalaman itu.)


Dan aku rasa, dunia ini akan jauh lebih damai kalau semua orang punya sedikit aja empati.
Bukan buat membenarkan kesalahan orang, tapi buat memberi ruang bagi manusia untuk bertumbuh dari kesalahannya.


Kita sering banget lupa kalau artis, influencer, atau siapa pun yang kita idolakan  mereka juga cuma manusia.
Ingat kasus Ellen DeGeneres?
Dulu dia dianggap salah satu host paling baik dan positif di dunia hiburan. Tapi satu isu tentang perilaku buruk di balik layar langsung menghancurkan reputasinya bertahun-tahun.
Atau Will Smith, yang sekali tampar di Oscar langsung kehilangan banyak proyek.
Padahal sebelum itu, mereka menginspirasi jutaan orang. Tapi ya itu tadi, dunia suka cepat mengangkattapi juga cepat menjatuhkan.


Aku nulis ini bukan buat membela siapa pun, tapi buat mengingatkan diriku sendiri —
Kalau suatu hari nanti aku juga bikin salah (dan aku pasti akan),
aku cuma manusia biasa. Aku nggak sempurna, aku punya sisi gelap, aku bisa salah ambil langkah, salah ngomong, salah milih jalan.
Tapi aku harap orang-orang nggak cuma lihat dari kesalahanku aja, tapi juga dari prosesku buat memperbaikinya.
Jangan karena satu dosa kecil, semua kebaikan dan mimpi yang kubangun dianggap nggak pernah ada.


Psikolog Carl Rogers, salah satu tokoh psikoterapi humanistik, pernah bilang:

“When I accept myself just as I am, then I can change.”
(Ketika aku menerima diriku apa adanya, barulah aku bisa berubah.)

Dan aku pikir itu juga berlaku untuk kita semua.
Kalau dunia terlalu kejam buat memaafkanmu, setidaknya kamu bisa mulai dengan memaafkan dirimu sendiri dulu.

Karena “maaf” bukan cuma kata, tapi juga bentuk keberanian, untuk tetap jadi manusia, bahkan ketika dunia memaksamu jadi sempurna.


Refleksi kecil:
Mungkin suatu hari aku juga akan menghadapi isu, gosip, atau salah paham yang bikin namaku jelek. Kita semua bisa, siapa pun bisa. Tapi kalau hari itu tiba, aku cuma mau bilang satu hal:
Aku akan tetap berbuat baik, meskipun dunia lagi nggak baik sama aku.
Dan kalau kamu juga lagi di posisi itu, jangan menyerah, jangan hilang arah.
Kesalahan itu bagian dari hidup, tapi kebaikan yang kamu tanam… akan tetap tumbuh, entah kapan.


“Tulisan ini kubuat sebagai surat terbuka untuk diriku sendiri dan untuk kamu yang mungkin juga sedang disalahpahami.”

                                                                           -manuelholam- 


Komentar

Postingan Populer