Langsung ke konten utama

Unggulan

Mari Membangun "Image Baik" Bersama Drama!


“Ada orang yang tidak benar-benar ingin berubah. Mereka hanya ingin terus dikasihani.”

Ini cerita tentang seorang teman kerja. 

Aku kenal dia bukan dari circle pertemanan, bukan juga karena sering nongkrong bareng, kami cuma satu departemen di tempat kerja.
Awalnya biasa aja.
Lalu, seperti kebanyakan orang yang haus didengarkan, dia mulai bercerita. Tentang masa lalunya yang kelam: kuliah gagal, orangtua toxic, pacar yang udah bosan, hidup yang nggak adil.

Aku mendengarkan, karena aku pikir, ya, mungkin dia cuma butuh teman. Tapi lama-lama, aku mulai merasa ada yang aneh.
Cerita-ceritanya kadang berubah-ubah, dramanya makin tinggi, dan posisinya selalu jadi korban.

Sampai akhirnya aku sadar:
Ada orang yang menjadikan drama sebagai alat untuk membangun citra diri.
Dan mereka sangat ahli dalam membuat “cerita sedih” terdengar begitu meyakinkan.

Temanku ini punya satu “bakat” yang luar biasa, dia bisa ada di tengah setiap konflik.
Kalau ada dua orang berseteru, dia bakal dekati dua-duanya, pura-pura netral, lalu komporin secara halus biar keduanya makin panas.

Hasilnya?
Dia tampil sebagai “orang baik yang selalu ada di tengah.”
Padahal sebenarnya dialah bensin dalam api yang membara itu.

Dan ketika semua mulai menjauh, dia kembali dengan jurus lamanya: cerita sedih.
Kadang pura-pura sakit, pingsan saat sedang kerja, atau menampilkan wajah lemah demi mengembalikan simpati orang-orang.

Sampai akhirnya aku sadar, pola ini mirip banget sama kisah yang dulu aku tonton di serial Hulu berjudul The Act.

Serial The Act (Hulu, 2019) menceritakan kisah nyata tentang Gypsy Rose Blanchard dan ibunya Dee Dee.
Dee Dee berpura-pura bahwa anaknya sakit parah  padahal Gypsy sehat.
Dia menciptakan drama hidup untuk mendapatkan perhatian, simpati, dan bantuan dari banyak orang.

Sama seperti beberapa orang yang kita temui di dunia nyata —
mereka menikmati rasa kasihan orang lain.
Karena di dalam diri mereka ada kebutuhan psikologis untuk merasa penting dan diperhatikan.

Psikolog Dr. George Simon, penulis buku In Sheep’s Clothing: Understanding and Dealing with Manipulative People, menulis:

“Manipulators are not always trying to control you — sometimes they’re trying to control how others see them.”
(“Manipulator tidak selalu berusaha mengendalikanmu — kadang mereka hanya ingin mengendalikan bagaimana orang lain memandang mereka.”)

Dan itulah yang aku lihat di temanku.
Semua “cerita” yang dia sebarkan bukan semata kebohongan, tapi alat untuk membentuk image sebagai korban, supaya dia tetap relevan di mata orang lain.


Awalnya orang-orang simpati. Tapi seiring waktu, semua mulai sadar.
Cerita yang sama diulang-ulang, air mata yang selalu muncul di waktu yang tepat, dan gosip yang merembet ke sana-sini.
Teman kerja yang tadinya hangat mulai menjauh.

Tapi bukannya introspeksi, dia justru makin keras mencari perhatian.
Ngadu ke atasan, menjelekkan rekan yang sebenarnya akrab, sok bijak tapi isinya kosong, dan bahkan pura-pura pingsan demi “pengampunan.”

Kadang aku berpikir, orang seperti ini bukan sekadar butuh perhatian, tapi juga kehilangan kendali atas identitasnya.
Mereka merasa hanya bisa “bernilai” kalau hidupnya sedang berantakan.


Hal  yang Harus Dilakukan Saat Hadapi Orang Seperti Ini

Berdasarkan saran psikolog Dr. Henry Cloud dalam bukunya Boundaries,

“You cannot change people who gain their sense of worth from chaos — you can only limit how much of that chaos you allow into your life.”

Jadi, solusi terbaik bukan melawan, tapi membatasi akses mereka terhadap emosi dan energi kita.

Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan:

  1. Tetapkan batas yang jelas. Jangan ikut terseret ke dalam drama mereka.
  2. Jangan coba membuktikan apa pun. Mereka akan memutarbalikkan fakta.
  3. Respon dengan tenang, tanpa emosi. Mereka hidup dari reaksi — jadi jangan beri bahan bakar.
  4. Fokus ke kerja dan integritasmu sendiri. Biarkan waktu yang membuktikan siapa yang tulus dan siapa yang cuma pandai akting.
  5. Catat atau dokumentasikan jika dia mulai membawa nama kamu ke atasan. Ini bukan gosip, tapi perlindungan diri.


Pesan untuk Para “Pencari Simpati”

Kalau kamu kebetulan membaca ini dan merasa relate dengan “butuh perhatian,”
percayalah: simpati yang dipaksakan akan berbalik jadi kejenuhan.
Kamu nggak perlu jadi korban untuk dianggap berarti.
Justru ketika kamu jujur dan bertanggung jawab atas hidupmu sendiri, orang akan lebih menghargai kamu.

Seperti yang ditulis Brené Brown dalam bukunya Daring Greatly:

“People admire your strength, but they connect with your vulnerability — only if it’s real.”
(Orang mengagumi kekuatanmu, tapi mereka akan terhubung dengan kerentananmu — asalkan itu nyata.)

 

Drama Tidak Akan Membangun Reputasi

Pada akhirnya, orang yang terlalu sibuk membangun “image baik bersama drama” akan terperangkap dalam peran yang mereka ciptakan sendiri.
Dan cepat atau lambat, semua topeng itu akan jatuh.

Sementara itu, orang yang memilih diam, fokus bekerja, dan tidak ikut main api gosip — mereka mungkin tidak terlihat mencolok, tapi akan selalu dipercaya.

Jadi, kalau kamu sedang berhadapan dengan orang seperti itu,
ingatlah:

“Kamu tidak bisa mengubah badai, tapi kamu bisa memutuskan seberapa dekat kamu berdiri dengannya.”

Dan buat siapapun yang sering pakai drama untuk mencari validasi —
percayalah, perhatian yang tulus tidak perlu diminta, dan simpati yang dipaksakan hanya akan berakhir pada kelelahan.



Note : 

Hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan drama yang tidak perlu.
Bangunlah citra baik bukan lewat cerita yang kamu karang,
tapi lewat integritas, kerja keras, dan sikap konsisten.

Karena pada akhirnya, drama hanya membuat orang kagum sementara —
tapi ketulusan akan selalu meninggalkan jejak yang lebih panjang.


Komentar

Postingan Populer