Langsung ke konten utama

Unggulan

Aku Kenapa ya??








“Antara pengin resign, tapi takut miskin.”
– setiap karyawan yang sedang waras-warasnya mikir hidup.

Serius, aku tuh akhir-akhir ini kayak overthinking versi deluxe edition. Kadang tengah malam tiba-tiba bengong mikirin masa depan. Kerja udah, gaji lumayan, tapi entah kenapa kayak... kosong. Kayak makan nasi padang tapi nggak pakai lauk. Ada, tapi nggak “ngena”.

Katanya kalau hidupmu mulai terasa datar, itu tandanya kamu udah masuk fase "bosan" alias penyakit umum para pekerja berpenghasilan tetap tapi hati tidak tetap. Yes, itu aku.


Setiap awal bulan, bahagia. Tanggal 10 ke atas, mulai gelisah. Tanggal 20, mulai buka aplikasi pinjaman online cuma buat lihat bunga (bukan minjem, cuma liat aja) wkwk, tanggal 25 udah gajian padahal. 😂

Kerjaan ya gitu-gitu aja. briefing, input data, kerja, lembur, diomelin atasan, berurusan sama team engineering karna sotware atau mesin rusak, break, makan, terus diulang. Sampai kadang mikir, “hidupku tuh cuma buat gini-gini aja ya?”

Kadang aku ngerasa pengen pindah kota, mulai dari nol, cari udara baru, atau bahkan kerja di luar negeri. Tapi pas mikir logistik, langsung inget: aku cuma punya koper, tabungan dikit, dan utang Shopee PayLater. Mantap banget kan buat jadi digital nomad versi ekonomi rakyat jelata.


Aku inget film The Secret Life of Walter Mitty  kisah tentang karyawan biasa yang kerja di majalah Life, hidupnya datar banget, tapi akhirnya berani keluar zona nyaman dan keliling dunia.

Dia cuma pengimajinasi ulung,  sampai akhirnya benar-benar melakukan sesuatu. Dan mungkin itu juga yang harus kulakuin: berhenti mikirin terus, mulai ngelakuin sesuatu.

“Beautiful things don’t ask for attention.”
– The Secret Life of Walter Mitty

Hal-hal indah tidak minta diperhatikan, mereka cuma terjadi ketika kamu berani melangkah.


Lucunya, di tempat kerja aku sering dibilang “anak ambisius”. Padahal bukan. Aku cuma bosan stagnan. Aku pengen hal baru, tantangan baru, lingkungan yang bikin otak dan hati kerja bareng lagi.

Tapi ya, ada dilema besar: keluar dari zona nyaman itu mahal. Apalagi kalau kamu masih mikirin cicilan, keluarga, dan masa depan adik-adik.

Kadang aku ngerasa kayak tokoh di film Everything Everywhere All At Once, yang semua pilihannya chaos, tapi di balik semua kebingungan itu, ada versi diriku yang paling bahagia, kalau berani ambil langkah besar.

Maunya sih pindah kota, tapi Pindah kota tuh kayak gebetan baru: kelihatannya seru, tapi bikin was-was. Di kota lama, kamu udah punya circle, tau warung murah mana, dan tau jam paling aman datang ke kantor biar gak ketemu bos di parkiran.

Tapi kadang kita memang perlu “ganti halaman”. Kayak buku, kalau halamannya udah habis, ya harus dibalik biar cerita lanjut.


“Hidup tidak akan pernah jadi menyenangkan, tapi kamu bisa memberi makna pada penderitaanmu.”
– Viktor Frankl, Man’s Search for Meaning

 

Mungkin ini bukan soal apa yang aku lakukan, tapi bagaimana aku memaknai apa yang sedang kulakukan.

Mungkin Tuhan belum ngasih tantangan baru karena aku belum benar-benar bersyukur sama tantangan yang sekarang. Dan sabar bukan berarti berhenti  sabar itu terus berjalan, tapi tanpa ngeluh setiap 5 meter.


Jujur aja, aku pengen banget suatu hari bisa bikin usaha sendiri. Punya waktu lebih buat keluarga, bisa bantu orang tua, dan biayain adik-adik tanpa harus mikir “ini cukup gak ya sampai akhir bulan?”.

Aku pengen bebas finansial, bukan cuma buat gaya, tapi biar bisa bagi waktu, bukan jual waktu.

Mungkin sekarang aku belum sampai situ. Tapi siapa tahu? Kalau terus konsisten, terus belajar, terus cari peluang,  suatu hari aku bisa lihat balik dan bilang, “Oh, jadi ini alasan kenapa dulu aku harus sabar.”

Aku Kenapa Ya?

Mungkin aku cuma lagi bosan. Mungkin ini cuma fase “quarter life crisis” jilid dua. Atau mungkin... aku cuma butuh liburan panjang tanpa ditanya HRD.

Tapi satu hal yang aku tahu: aku nggak mau hidup cuma buat bertahan. Aku mau hidup buat berkembang.

“You don’t have to see the whole staircase, just take the first step.”
– Martin Luther King Jr.

Jadi, buat kamu yang lagi kayak aku,  ngerasa stuck, overthinking, dan bosan jadi karyawan: pelan-pelan aja. Cari peluang baru, buka diri pada kemungkinan baru, tapi jangan lupa bersyukur sama yang udah kamu punya.

Kadang Tuhan gak langsung buka pintu baru, karena kita masih betah nongkrong di depan pintu lama. 

Jadi ya... mungkin aku gak kenapa-napa. Aku cuma manusia yang lagi mikir keras gimana caranya biar gak hidup seadanya. 


Komentar

Postingan Populer