Langsung ke konten utama

Unggulan

3 Tipe Manusia!



Kemarin aku membaca sebuah artikel menarik di Line Today berjudul “8 Tipe Orang Pecandu Mie Instan.” Aku sempat tersenyum ternyata, bahkan makan mie instan pun bisa dikategorikan. Ada yang makannya karena kepepet, ada yang karena nostalgia, dan ada juga yang cuma ingin sensasi gurihnya. Dunia ini memang kompleks, bahkan hal sederhana bisa menggambarkan sisi tersembunyi manusia: keterikatan pada kenyamanan.

Aku jadi berpikir, mungkin kita semua punya “mie instan” masing-masing—bukan dalam arti harfiah, tapi sesuatu yang kita nikmati terus-menerus meski tahu tidak sehat: kebiasaan menunda, terlalu banyak merencanakan, atau sekadar bermimpi tanpa bertindak.
Ya, aku salah satu dari mereka. Aku seorang pecandu rencana.


Aku pernah membaca hasil riset dari Dominican University of California, bahwa menulis tujuan hidup bisa meningkatkan peluang sukses hingga 42%. Tapi ada sisi lain yang jarang dibahas. Beberapa psikolog, termasuk Peter Gollwitzer, justru menemukan fenomena sebaliknya: ketika kita terlalu sering menceritakan rencana besar ke orang lain, otak memberi sinyal seolah tujuan itu sudah tercapai.

Itulah mengapa, sering kali setelah kita bercerita, semangat malah turun.
Kita sudah dapat “pujian instan”, dopamin pun naik, lalu motivasi menurun.
Rasanya seperti sudah berlari padahal belum melangkah sama sekali.

Mungkin itu sebabnya banyak “pecandu” rencana seperti aku senang membicarakan visi, tapi tidak pernah memulainya. Seolah-olah berbagi rencana sudah cukup untuk merasa produktif.


Beberapa waktu lalu aku membaca buku “The Power of Kepepet” karya Jaya Setiabudi. Buku itu sederhana tapi menampar. Ia membagi manusia ke dalam tiga tipe:

  1. The Winner, sang pejuang yang terus melangkah meski jatuh.
  2. The Loser, yang menyerah begitu gagal pertama kali.
  3. The Lover, pengamat yang punya banyak ide, tapi tak kunjung mulai.

Dan dengan jujur, aku termasuk The Lover.
Aku suka memikirkan ide, mencatat rencana, menulis strategi—tapi jarang benar-benar mengeksekusi. Selalu ada alasan: “Belum cukup modal,” “Belum waktu yang tepat,” “Masih ingin belajar dulu.”

Padahal, seperti kata Jaya Setiabudi:

“Jangan takut gagal, jadikan kegagalan pengalaman. Bukankah pengalaman itu sesuatu yang berharga?”

Aku mulai sadar, yang membedakan The Winner dengan The Lover bukanlah ide atau keberuntungan, tapi komitmen untuk tetap melangkah meski belum siap.


Seorang psikolog klinis, Dr. Albert Ellis, pernah menjelaskan bahwa manusia cenderung mencari rasa nyaman (comfort seeking) lebih daripada mengejar pertumbuhan. Ini yang membuat banyak orang terjebak dalam siklus perencanaan tanpa tindakan. Otak kita lebih suka merasakan aman dalam ilusi kontrol dibanding menghadapi ketidakpastian dunia nyata.

Itu sebabnya, menurut Ellis, perubahan sejati baru terjadi ketika seseorang memaksa diri keluar dari zona nyaman bukan saat sudah siap, tapi justru ketika kepepet.

Menariknya, teori ini senada dengan semangat buku The Power of Kepepet.
Bahwa terkadang, keterdesakan adalah bentuk komitmen paling murni.
Ketika semua alasan habis, yang tersisa hanyalah tindakan.


Aku juga teringat film Whiplash (2014), tentang seorang drummer muda bernama Andrew yang dilatih dengan brutal oleh gurunya. Film itu bukan tentang musik, tapi tentang obsesi dan komitmen ekstrem untuk mencapai kesempurnaan. Andrew bukan orang paling berbakat tapi dia bersedia kehilangan segalanya untuk mimpi itu.

Film ini membuatku bertanya:
Apakah aku sungguh berkomitmen pada mimpiku, atau sekadar menikmati sensasi membicarakannya?

Karena banyak orang terjebak di fase “niat” mereka bilang ingin berubah, ingin sukses, ingin mandiri, tapi sebenarnya hanya ingin merasa seolah sedang berproses.
Padahal, tanpa tindakan, semua itu cuma ilusi produktivitas.


Kini aku mulai mengerti: menjadi “pecandu rencana” bukan aib, tapi tanda bahwa kita punya banyak potensi yang belum diberi jalan keluar. Namun satu hal pasti—rencana tidak akan berubah jadi kenyataan tanpa komitmen dan keberanian memulai.

Seorang mentor bisnis pernah berkata,

“Bukan ide besar yang membuatmu sukses, tapi langkah kecil yang terus dilakukan.”

Mungkin kuncinya sederhana: mulai saja dulu, meski retak, meski belum sempurna.
Seperti aku yang pernah memasang tempered glass retak tapi tetap memakainya kadang, yang penting bukan hasil sempurna, tapi niat untuk tetap melanjutkan.

Jadi untuk para pecandu rencana, pecandu kenyamanan, atau pecandu niat yang tak jadi nyata mari belajar berkomitmen, bukan pada hasil, tapi pada prosesnya.
Karena hanya dengan melangkah, The Lover bisa berubah menjadi The Winner.

Aku masih berjuang melawan kebiasaan menunda.
Masih belajar mencintai proses, bukan hanya rencananya.
Tapi seperti kata pepatah Jepang,

“Sedikit demi sedikit, batu pun berlubang.”

Semoga suatu hari nanti, aku bisa berkata dengan mantap:

I’m not just a planner anymore — I’m a doer.



Komentar

Postingan Populer