Merasa Cukup!
Beberapa waktu lalu, aku dapat panggilan dari kampung.
Dari dua adikku yang masih di kampung.
Yang satu, seperti biasa, penuh semangat cerita ini-itu.
Yang satunya lagi, si paling kecil Kian, yang kalau ditanya mau apa, jawabannya selalu sama:
“Nggak usah, nanti habis uang kalian.”
Kalimat itu selalu berhasil bikin aku berhenti sejenak.
Ada rasa haru, bangga, sekaligus sedih di saat bersamaan.
Beberapa menit setelahnya, si kakaknya minta dibelikan HP.
Aku tertawa kecil, bukan karena heran, tapi karena tahu, begitulah anak sekolah zaman sekarang.
Butuh HP buat belajar, buat main juga, tentu.
Dan jujur, selama aku mampu, aku akan selalu berusaha memenuhi keinginan mereka.
Karena aku tahu rasanya tumbuh dengan banyak keinginan tapi nggak bisa punya apa-apa.
Aku tahu rasanya lihat teman lain punya sesuatu yang kita cuma bisa bayangkan.
Mungkin itu sebabnya sekarang aku bertekad, kalau aku punya rezeki, kenapa enggak.
Kian, adikku yang paling kecil, sebenarnya anak yang paling nggak mau merepotkan.
Tapi waktu aku tawari PS3, matanya langsung berbinar.
Lucunya, dia masih sempat bilang, “Boleh, tapi jangan mahal-mahal ya.”
Dan entah kenapa, justru di situlah aku belajar arti kata cukup.
Aku sadar, “cukup” itu bukan soal seberapa banyak yang kita punya,
tapi tentang seberapa dalam kita bersyukur.
Gajiku mungkin bukan yang tertinggi, tapi juga nggak begitu rendah.
Setiap bulan aku kirim sebagian ke kampung, entah buat ganti perabotan yang rusak, beli keperluan sekolah, atau kebutuhan mendadak lainnya.
Dan juga aku nggak pernah merasa kekurangan. Ataupun kelebihan tapi cukup.
Dengan rasa cukup, perasaan damai karena tahu semuanya baik-baik saja.
Aku masih bisa menabung, masih bisa makan enak walaupun nggak tiap hari.
masih bisa beli hal-hal yang aku suka tanpa rasa bersalah.
Dan di sela-sela kesibukan, aku sering berpikir:
“Kalau hidupku sederhana tapi tenang seperti ini, bukankah itu bentuk kekayaan juga?”
Aku nggak tahu apa nanti aku akan punya lebih banyak lagi,
tapi aku tahu satu hal:
selama aku masih bisa berbagi, selama keluargaku masih tertawa,
aku sudah merasa kaya.
Puji Tuhan, aku cukup.
Aku punya keluarga yang saling peduli, pekerjaan yang membuatku hidup,
dan hati yang masih bisa bersyukur.
Dan mungkin, di dunia yang serba cepat ini,
“merasa cukup” adalah bentuk kemewahan paling nyata yang bisa aku punya.
Semoga berkat melimpah lebih banyak lagi kedepannya dan itu pasti terjadi.

Komentar
Posting Komentar