I'm Not Really Ready
Ada masa di hidupku di mana aku berpikir, “Kenapa enggak coba aja?”
Waktu itu, aku baru aja lihat story kak Zarry Hendrik, dia cerita tentang menjual caption Instagram.
Kedengarannya menarik. Dan karena aku juga suka menulis, aku pikir, “Ah, ini bisa banget aku lakuin!”
Akhirnya, aku buka jasa menulis caption.
Tarifnya? Cuma IDR 10.000 per caption.
Puisi, kata-kata romantis, ucapan ulang tahun, bahkan surat cinta untuk orang lain — aku babat semuanya.
Aku promosi di Instagram lewat stories.
Kebetulan waktu itu aku lagi nongkrong bareng teman-teman di Orchard Park,
jadi bisa dibilang stories-ku hari itu agak… nge-spam dikitlah.
Dari sekitar 300 akun yang nonton, ternyata 6 orang order.
Aku kaget.
Serius, aku pikir nggak bakal ada yang beli.
Tapi ternyata, ada aja yang butuh kata-kata dari aku.
Teman-teman juga pada nggak percaya,
“Seriusan ada yang beli caption?”
Dan aku cuma bisa ketawa, sambil sibuk ngetik di tengah acara nonton bareng itu.
Begitu nonton bareng selesai, aku lanjut lembur sampai malam.
Satu per satu aku rangkai kata sesuai pesanan.
Ada yang minta caption buat anniversary, ada yang buat mantan, ada juga yang cuma pengen kalimat motivasi buat diri sendiri.
Setelah semua dikirim lewat DM, mereka transfer dan ngasih testimoni positif.
Rasanya luar biasa.
Capek, iya. Capeknya lebih ke mikir sih, kata-kata puitis apa lagi ya, Tapi puas banget.
Testimoni mereka aku screenshot dan upload lagi ke story (lagi-lagi promosi 😅).
Dan ternyata dari situ, orderan makin banyak.
Awalnya sih seru, sampai akhirnya semua mulai terasa berat.
Seminggu kemudian, aku mulai keteteran.
Beberapa orderan telat, blog pribadiku terbengkalai,
kerjaan juga kena imbas karena aku sering begadang.
Bahkan sempat dimarahi pelanggan karena telat ngirim hasil tulisan.
Bayaran Rp10.000 nggak sebanding dengan waktu dan tenaga yang aku keluarin.
Dan di titik itu, aku sadar satu hal sederhana tapi penting:
Aku belum siap.
Aku suka menulis, tapi ternyata aku belum siap menjadikan itu rutinitas bisnis.
Aku belum punya sistem, waktu, dan mental untuk konsisten.
Jadi aku memutuskan untuk berhenti dulu.
Bukan karena gagal, tapi karena aku tahu,
aku belum benar-benar siap untuk melangkah sejauh itu.
Buku “Atomic Habits” karya James Clear tiba-tiba terlintas di kepalaku, ada satu bagian yang aku paling suka darai buku itu:
“You do not rise to the level of your goals, you fall to the level of your systems.”
Kita nggak akan tumbuh hanya karena punya niat besar,
tapi sejauh mana kita menyiapkan sistem dan diri kita untuk menanggung niat itu.
Aku pikir aku siap, padahal yang aku punya cuma semangat sesaat.
Dan itu nggak salah.
Kadang, perjalanan hidup memang tentang mencoba sesuatu, lalu sadar:
“Oh, ini belum waktuku.”
Sekarang, aku belajar untuk lebih pelan.
Belajar menghargai proses dan mengenali batas diri.
Karena ternyata, kesiapan bukan tentang keberanian memulai,
tapi tentang kedewasaan untuk tahu kapan harus berhenti sejenak.
Mungkin nanti aku akan mulai lagi, tapi kali ini dengan waktu yang lebih cukup, sistem yang lebih rapi, dan hati yang lebih siap.
Untuk sekarang, aku cuma mau menulis.
Tanpa tenggat waktu, tanpa tekanan, tanpa target.
Menulis karena aku suka, bukan karena aku harus.
“I’m not really ready.”
Tapi nggak apa-apa.Kadang, berhenti sejenak adalah cara terbaik untuk mulai lagi, dengan lebih baik.

Komentar
Posting Komentar