Unggulan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Nyatanya Sulit Sekali
Ada masa dalam hidup di mana semua pilihan terlihat baik —
tapi justru karena itulah semuanya terasa rumit.
Beberapa waktu lalu, aku dihadapkan pada tiga pilihan besar.
Pertama, menandatangani kontrak baru di perusahaan lama dengan gaji yang sebenarnya sudah cukup lumayan.
Kedua, menerima tawaran kerja di tempat baru yang menjanjikan pengalaman berbeda tapi dengan gaji yang lebih kecil.
Dan ketiga, ikut teman yang lagi semangat banget ngajak buka bisnis food and beverage.
Tiga-tiganya terlihat menarik.
Tiga-tiganya juga punya risikonya masing-masing.
Dan entah kenapa, tiga-tiganya juga sama-sama bikin aku pusing.
Di satu sisi, aku bosan banget sama rutinitas kerja yang lama.
Semua terasa datar. Dari orang-orangnya, suasananya, sampai pekerjaan yang udah bisa kulakukan tanpa mikir.
Tapi di sisi lain, aku juga takut kehilangan kestabilan yang udah aku punya.
Gaji di tempat baru lebih kecil.
Bisnis yang ditawarkan temanku masih butuh modal besar dan, jujur aja,
aku belum cukup yakin dengan arah dan kematangannya.
Aku duduk lama malam itu, sambil ngelamun di depan layar laptop yang masih menampilkan draft kontrak kerja.
Pikiranku bercabang ke mana-mana.
Rasanya seperti sedang berdiri di tengah persimpangan,
dan semua arah tampak benar, tapi nggak tahu mana yang harus dipilih.
Lalu aku ingat satu kutipan dari buku Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini karya Marchella FP:
“Sebesar apa pun niat baik dan sekeras apa pun usaha,
menangkap seratus apel yang jatuh di waktu bersamaan cuma pakai dua tangan itu nggak mungkin.
Beberapa harus dikorbankan dan diikhlaskan.”
Dan malam itu, kutipan itu terasa sangat nyata.
Aku memang pengin semuanya berjalan sempurna:
karier yang stabil, pengalaman baru, dan bisnis yang berkembang.
Tapi nyatanya, aku cuma punya dua tangan dan satu waktu.
Akhirnya, aku memilih untuk bertahan.
Bukan karena aku takut mencoba hal baru,
tapi karena aku sadar, belum saatnya aku melompat sejauh itu.
Aku masih butuh waktu buat belajar, menabung, dan memperkuat pondasi sebelum beranjak ke langkah yang lebih besar.
Dan keputusan itu… ternyata nggak seburuk yang kupikirkan.
Karena kadang, “bertahan” juga adalah bentuk keberanian yang sering diremehkan orang.
Bertahan bukan berarti menyerah pada keadaan,
tapi tahu kapan waktumu untuk berlari, dan kapan waktumu untuk diam sebentar.
Dari semua kebingungan itu, aku belajar satu hal penting:
Dalam hidup, kita nggak akan pernah bisa punya semua hal di waktu yang sama.
Beberapa hal harus dilepas supaya yang lain bisa digenggam lebih erat.
Beberapa kesempatan memang harus diikhlaskan,
bukan karena kita nggak mampu, tapi karena kita sedang belajar memilih dengan bijak.
Nyatanya sulit sekali
tapi hidup memang tentang membuat pilihan yang masih bisa kita tanggung.
Bukan yang terlihat paling keren,
tapi yang paling sesuai dengan langkah kaki kita hari ini.
Dan siapa tahu, ketika waktunya tiba,
aku bisa melangkah lagi dengan lebih tenang,
karena sudah belajar satu hal berharga:
bahwa ikhlas pun adalah bentuk dari kesiapan.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar
Posting Komentar