NPD?
kata pepatah , semakin berisi semakin merunduk, kalau belum merunduk berarti belum tinggi ilmunya, makanya masih sibuk cari validasi biar tampak sipaling berisi.
tambah value dulu nggak sih biar pantas divalidasi?
Kira-kira begitulah tulisku di instagram story.
Sontak langsung heboh teman-teman kerja karna status itu, hahaha.
Itu bukan sekadar kalimat random. Saat itu aku lagi kesal banget.
Kesal sama seorang senior di tempat kerja.
Yang entah kenapa merasa dirinya “paling benar”,
padahal hasil kerjanya juga… yah, bisa dibilang belum tentu lebih baik.
Hari itu aku lagi fokus di meja kerja, lagi nulis laporan produksi.
tiba-tiba dia datang, dan mengamati hal yang aku lagi kerjakan, lalu dengan ekspresi “superior” yang khas dia ngomong begini :
“Kamu tuh hitungnya kayak gini jangan gitu, harusnya begini.” sambil NGOTOT, kalau dia yang benar.
Padahal aku lagi nggak salah apa-apa. aku juga lakuin kayak biasa.
ini bukan cuma sekali dua kali, udah sering di beberapa kasus, kayak dia nggak punya kerjaan lain, atasan aku juga bukan, malahan atasan aku ngak ada komplain apa-apa.
contoh lain, dia juga pernah ambil alih kerjaan aku cuma karna, supervisor kami lagi ada di area kerjaku. Orangnnya haus pujian banget. Kalau ada kesalahan main lempar sana-sini, seakan-akan dia korban dari masalah tersebut padahal masih satu dapartemen dan satu team.
Hari itu, aku nggak mau berdebat dengan siNPD ini, karna udah pernah kehabisan energi dibuatnya. Aku cuma menahan emosi, tapi jujur, kesalnya bukan main. Biasanya kalau kerjaan udah kelar aku pasti nggak bakal mikirin apapun masalah kerjaan, tapi entah kenapa hari ini aku begitu kesal.
Akhirnya malamnya, aku nulis story di Instagram.
Tanpa nyebut nama, cuma sindiran halus dengan quotes tadi.
Dan ternyata, langsung rame.
Teman-teman udah pada tahu maksudnya siapa dan heboh.
Fenomena kayak gini sebenarnya nggak langka.
Dalam psikologi, ada istilah yang cukup nyerempet: Narcissistic Personality Disorder (NPD)
sebuah kondisi di mana seseorang terlalu terobsesi untuk terlihat hebat, pintar, atau superior dibanding orang lain.
Psikolog Dr. Ramani Durvasula, yang sering bahas topik ini di YouTube-nya, pernah bilang:
“Orang dengan kecenderungan narsistik butuh merasa berkuasa untuk menutupi rasa tidak amannya sendiri.”
Dan itu masuk akal.
Kadang yang paling keras bicara “aku tahu yang terbaik”, justru yang paling takut terlihat salah.
Jadi, bisa jadi senior yang sok tahu itu bukan benar-benar sombong,
tapi sedang berusaha keras menutupi kekurangannya sendiri.
Sayangnya, dengan cara yang salah: menjatuhkan orang lain.
Aku langsung ingat salah satu dialog dari drama “Misaeng”,
drama yang ngasih gambaran paling realistis tentang dunia kerja:
“Di kantor ini, kamu tidak perlu terlihat sempurna.
Cukup jadi orang yang tahu kapan harus belajar,
dan kapan harus diam.”
Kalimat itu ngena banget.
Karena banyak orang pengin terlihat pintar,
padahal yang sebenarnya dibutuhkan adalah kerendahan hati untuk mau belajar.
Dari kejadian itu, aku belajar dua hal:
- Kita nggak bisa kontrol sikap orang lain, tapi kita bisa kontrol respon kita.
- Ketenangan adalah bentuk balasan paling elegan.
Kalau aku marah atau ikut debat panjang waktu itu, mungkin masalahnya makin runyam.
Tapi dengan diam dan tetap kerja dengan hasil yang bagus,
lama-lama orang akan tahu siapa yang benar-benar berisi dan siapa yang cuma berisik.
Sekarang kalau aku ingat kejadian itu, aku malah senyum.
Lucu aja ternyata rasa kesal bisa berubah jadi bahan renungan.
Bahwa hidup memang penuh orang yang merasa lebih tinggi,
tapi kita sendiri juga jangan sampai jadi seperti itu.
Karena seiring waktu, aku sadar:
Orang yang benar-benar hebat nggak butuh panggung,
mereka sudah cukup sibuk berkarya.
Dan untukku sendiri,
aku cuma ingin tetap jadi orang yang belajar, bukan merasa paling tahu.
Biar pelan, yang penting tetap tumbuh. Kadang, yang paling nyaring suaranya justru paling kosong isinya. Dan yang tenang, biasanya sedang berproses menjadi berisi.
Beberapa hari setelah aku bikin story tersebut, orang-orang sekitar mulai bicara seperlunya doang sama siNPD ini. Mereka nggak mau punya drama sama dia. Dia memang senior, tapi bukan berarti dia bisa berlaku seenaknya. Kayak kena karma dia kesepian banget sekarang. hahaha.

Komentar
Posting Komentar