Unggulan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Do You Think I Care?
DO YOU THINK I CARE?
Pernah nggak sih, kamu lagi asik ngobrol sama temen, tapi tiba-tiba suasana berubah canggung, bukan karena topik berat, tapi karena mulutmu kelepasan sesuatu yang nyakitin dia?
Kayak,
“Badan gepol kayak lu, mau jadi model?”
“Astaga, makan mulu si Gembrot ini.”
“Eh! Cungkring, makan sono yang banyak!”
“Eh, Sibirong, mau kemana kau?”
Lucu? Mungkin buatmu. Tapi nggak buat orang yang dengar.
Aku pernah di posisi itu, salah ngomong, lalu nyesel semalaman.
Rasanya kayak, “Ya ampun, kenapa tadi mulutku nggak disensor?”
Dan yang paling parah, kadang kita nggak sadar kalau ucapan ringan bisa meninggalkan luka panjang. Luka yang nggak kelihatan, tapi tumbuh diam-diam di dalam diri seseorang. Akhirnya aku chat dia dan minta maaf kalau itu bikin dia sakit hati.
Seorang psikolog sosial dari Harvard, Dr. Susan David, pernah bilang:
“Words are powerful. Once spoken, they shape the emotional reality of others.”
Jadi, kalau kamu pikir kata-kata itu cuma candaan, coba pikir ulang.
Candaan bisa jadi ringan buatmu, tapi bisa jadi beban buat orang lain.
Orang sering ngeles dengan kalimat, “Yah, itu kan panggilan sayang!”
Tapi jujur aja deh, beneran sayang, atau cuma refleks ngeledek?
Coba bayangin: kamu punya teman cantik banget, perfect, dan kamu manggil dia “Eh jelek!”
Dia mungkin bakal tertawa karena tahu itu cuma bercanda. Tapi gimana kalau kamu ngomong begitu ke orang yang beneran insecure sama dirinya?
Itu bukan panggilan sayang lagi, itu paku yang kamu tanam di harga dirinya.
Film Mean Girls (2004) Ada kutipan seperti ini:
“Calling somebody fat won’t make you any thinner. Calling someone stupid doesn’t make you any smarter.”
Dan itu benar banget.
Menghina orang lain nggak bikin kamu lebih baik.
Nggak bikin kamu lebih lucu, apalagi lebih keren.
Yang ada cuma satu, kamu pelan-pelan kehilangan empati.
Aku jadi inget buku “The Gifts of Imperfection” karya BrenĂ© Brown.
Dia nulis,
“We are all made of strength and struggle and there is beauty in both.”
Artinya, nggak ada manusia yang sempurna, tapi kita semua pantas dihormati.
Setiap bentuk tubuh, warna kulit, bahkan cara bicara — semuanya punya kisah sendiri. Dan kamu nggak pernah tahu seberapa berat perjuangan seseorang cuma untuk bisa percaya diri di depanmu.
Buat kalian yang sering jadi korban body shaming, aku tahu rasanya.
Rasanya kayak semua orang punya hak buat ngomentarin tubuhmu, padahal nggak ada satupun dari mereka yang tahu kisah di baliknya.
Kadang rasanya malu, kadang marah, kadang pengen hilang. Tapi kamu bukan seburuk kata-kata mereka.
Kata psikolog Dr. Carla Marie Manly,
“Self-worth should never be determined by external voices, but by internal truth.”
Jadi mulai sekarang, berhenti menilai dirimu lewat mulut orang lain.
Kamu berhak bahagia tanpa harus minta izin dari komentar siapa pun.
Aku tahu, dunia ini nggak bakal berhenti ngomong.
Akan selalu ada orang yang bilang kamu kurang ini, kurang itu, terlalu ini, terlalu itu.
Dan kadang kamu pengen teriak,
“DO YOU THINK I CARE?”
Tapi kamu nggak perlu teriak.
Cukup buktikan lewat hidupmu bahwa kamu baik-baik aja. Bahwa kamu tetap berproses, berkembang, bahkan bersinar lebih terang dari ejekan mereka.
Ingat:
“You don’t need to dim someone’s light to make yours brighter.”
Kalimat ini mungkin klise, tapi selalu benar.
Karena cahaya nggak pernah jadi rebutan yang redup cuma hati yang iri.
Dan buat kamu yang pernah jadi korban kata-kata kejam:
Bangkitlah. Upgrade dirimu. Isi otakmu dengan hal-hal hebat.
Belajar sesuatu yang bikin kamu bangga pada dirimu sendiri.
Nggak perlu balas dengan kata-kata, cukup buktikan dengan karya.
Karena pada akhirnya
orang yang benar-benar menang bukan yang paling keras suaranya,
tapi yang paling tenang saat dunia sibuk meremehkannya.
So next time someone tries to bring you down, just smile and say,
“Do you think I care?”
Because you’ve already learned how to rise above it.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar
Posting Komentar