A Moment Called “Percuma”





A Moment Called “Percuma”

Ada satu masa dalam hidup ketika aku sadar, beberapa orang tidak benar-benar ingin sembuh. Mereka hanya ingin didengar, ditenangkan, lalu mengulangi luka yang sama. Lagi, dan lagi.

Aku pernah di posisi itu. Jadi “tempat sampah emosi” seseorang.
Setiap kali dia punya masalah, aku yang ditelpon duluan. Setiap kali dia patah hati, aku yang disalahkan dunia karena mencoba memberi nasihat yang sebenarnya sudah dia tahu jawabannya. Tapi apa yang terjadi? Semua omonganku hanya lewat kuping kanan, keluar dari kuping kiri.
Dan di situ aku sadar, ada momen yang benar-benar bisa disebut “percuma.”

Ada kalimat dalam sebuah video tiktok yang aku lihat dan ngena banget,

“Kita tidak bisa menyelamatkan seseorang yang nyaman hidup dalam penderitaannya sendiri.”
Kalimat itu nempel banget di kepala. Karena pada akhirnya, beberapa orang bukan butuh solusi, mereka hanya butuh penonton.

Sama seperti kutipan dari drama Korea “It’s Okay to Not Be Okay”,

“You can’t heal someone who doesn’t want to be healed.”
Lucunya, banyak orang ingin dikelilingi empati tapi menolak perubahan. Mereka menangis minta nasihat, tapi ketika diberi jalan keluar, mereka menolaknya dengan sejuta alasan.

Dulu aku pikir itu bentuk kesabaran: mendengar, memahami, menguatkan.
Tapi lama-lama aku sadar, ini bukan lagi soal empati,  ini soal energi yang terbuang sia-sia.

Albert Einstein pernah bilang,

“The definition of insanity is doing the same thing over and over again and expecting different results.”
Dan bukankah itu yang dilakukan banyak orang dalam hidup?
Datang ke kita dengan masalah yang sama, menolak solusi yang sama, lalu berharap keajaiban yang berbeda.

Sekarang aku memilih berhenti.
Berhenti jadi “obat” untuk orang yang tak mau sembuh.
Berhenti jadi telinga untuk keluh kesah yang tak pernah berubah.
Berhenti jadi penyelamat, karena mereka bahkan tak ingin diselamatkan.

Menjadi pendengar yang baik bukan lagi kebanggaan. Kadang, itu justru hal paling melelahkan dalam hidup. Karena kamu belajar bahwa simpati tanpa batas justru bisa menghancurkanmu pelan-pelan.

Jadi, mulai sekarang, kalau aku bertemu seseorang yang cuma ingin mengeluh, bukan berubah, aku cuma bisa tersenyum, lalu mundur pelan-pelan.
bukan karna aku jahat, cuma aku sadar bahwa hidupku juga berharga dan nggak mau buang waktu untuk hal yang begituan. 

Karena tidak semua yang bisa aku bantu, pantas dibantu.
Dan tidak semua orang yang aku coba selamatkan, ingin diselamatkan.

Kadang… yang paling bijak adalah tahu kapan harus berkata:
“Percuma.”


Komentar

Postingan Populer