Gagal itu Bodoh?
“Kalau kamu gagal berarti kamu masih bodoh.”
Itu kalimat yang keluar begitu saja dari seorang kakak kenalanku.
dan, jujur aja, aku nggak terima.
Dari dulu, aku memang sensitif kalau dibilang bodoh. Kayak ada sesuatu dalam diriku yang langsung menolak, merasa diserang ataupun merasa nggak dihargai.
Jadi ceritanya begini, Kak Putri, salah satu senior kenalanku nelpon, nanyain kabar, nanyain gimana hidup di Jakarta??, Waktu itu aku lagi cari kerja di Jakarta sambil nunggu jadwal interview Us visa, dan aku cerita ke dia kalau aku udah gagal tiga kali food test di beberapa restoran ternama di Jakarta. Entah itu karena hasilnya kurang memuaskan atau karena gaji yang kuminta mungkin ketinggian, tapi intinya mereka juga “nggak kasih kabar apa-apa.” untuk next prosesnya.
Ya sudah. Gagal mungkin pikirku.
Lalu kakak itu bilang dengan tegas gini:
“Kalau kamu gagal berarti kamu masih bodoh.”
Aku langsung ngerasa kayak ada sebuah pisau yang tertancap di dadaku.
Tapi aku tahan. Aku diam. Aku dengerin dulu sambil memahami kata-kata dan nasehatnya.
Singkat cerita, aku ada panggilan interview beserta food test di salah satu brand cake shop ternama di Jakarta, mereka punya beberapa resto dan central kitchen. Waktu itu aku disuruh datang ke central kitchen mereka untuk interview dan food test.
Aku datang dengan perasaan yang campur aduk, sedikit takut, sedikit lelah, tapi juga, sedikit lebih dewasa. Kali ini aku bikin dessert stawberry short cake,
dan bahkan sebelum head chef bilang apa pun aku tahu hasilnya bagus.
Begitu head chef coba makananku, dia langsung amaze.
Tatapan yang biasanya datar, kali ini berubah.
Ada anggukan kecil, ada senyum tipis, ada “good job.”
Dan, aku diterima. Lalu aku pulang dengan napas lega. Akhirnya dapat kerja.
Tapi yang paling penting, aku keluar dengan pikiran yang berubah.
Hal yang ubah persepsiku tentang kata "gagal". Aku ingat lagi perkataan Kak Putri.
"Kalau kamu gagal berarti kamu masih bodoh". Mungkin dia tidak bermaksud kasar, dia cuma mau aku termotivasi, tidak banyak ngeluh dan nyerah sama keadaan. Dan benar saja aku memang masih perlu belajar.
GAGAL Itu ternyata latihan.
Itu proses yang memaksa aku belajar, memperbaiki, dan mengenali kelemahanku sendiri. Waktu kak Putri bilang “Kalau kamu gagal berarti kamu masih bodoh,” dia bukan ngejek.
Dia cuma ngingetin bahwa ada ruang yang belum aku isi. Ada keterampilan yang belum aku kuasai. Ada standar yang belum aku capai.
Dan benar, Aku memang belum cukup baik waktu itu.
Tapi “belum baik” itu bukan kutukan. Itu kompas. Arah. Tanda bahwa aku masih bisa naik level.
Kita sering mengira gagal itu tanda kita nggak berbakat.
Padahal gagal adalah bukti bahwa kita sedang belajar jadi lebih pintar dari diri kita yang kemarin.
Kalau aku diterima dari food test pertama, mungkin aku nggak bakal berkembang. Aku bakal ngerasa cukup. Padahal aku belum cukup.
Kadang Tuhan sengaja menghentikan kita di depan pintu,
supaya kita pulang, berlatih, dan datang lagi dengan versi yang lebih baik.
Dan itu yang terjadi sama aku.
Ada sebuah kutipan indah dari buku “The Last Lecture” karya Randy Pausch:
“The brick walls are there for a reason. They’re not there to keep us out,
they’re there to show how badly we want something.”
(Tembok penghalang itu ada karena alasan. Bukan untuk menghalangi kita,
tapi untuk menunjukkan seberapa besar keinginan kita.)
Tiga kegagalan food test itu adalah “brick wall”-ku.
Dan ternyata tembok itu bukan untuk menghentikan aku,
tapi untuk membentukku sampai aku layak melewati pintunya.
Gagal itu bukan bodoh. Yang bodoh adalah berhenti belajar setelah gagal.
Selama aku mau memperbaiki diri, mau mencoba lagi, mau menerima bahwa ada hal yang harus dipelajari, maka setiap kegagalan hanyalah bagian dari proses menjadi lebih hebat.
Karena kadang, satu-satunya cara menjadi pintar adalah dengan berani gagal dulu. Dan benar saja, aku baru paham setelah food test keempat. Disalah satu restoran berbintang di Jakarta. Baru di titik itu aku sadar, Ternyata tiga food test sebelumnya bukan kegagalan, melainkan latihan dan pelajaran.
Gagal memang terasa menyakitkan, tapi gagal adalah guru yang paling jujur, karena dia adalah bagian dari dirimu, kamu jadi tahu siapa kamu dan kekuranganmu, juga kamu jadi tahu seberapa kuat dirimu untuk bertahan, untuk bangkit lagi dan menjadi kuat, jadi jangan takut gagal, jangan malu karna gagal, karna gagal adalah pengalaman terbaik untuk menjadi yang lebih baik. -noel-

Komentar
Posting Komentar