Bye Makassar!
Malam terakhir sebelum pulang, aku kembali ke Losari. Biasanya tiap sore aku selalu jogging di daerah sini, lari dari kosan ke pantai Losari. Kota ini mulai berkilau oleh lampu, suara anak-anak bermain, tawa orang berjualan, dan desiran ombak yang datang silih berganti.
Aku menatap laut itu lama sekali, berpikir tentang perjalanan, tentang tempat baru yang memberi ruang untuk mengenal diri sendiri. Makassar mungkin hanya satu kota di peta Indonesia. Tapi bagiku, Makassar jadi pengingat bahwa setiap perjalanan bukan sekadar berpindah tempat, melainkan juga tentang menemukan versi baru dari diriku di antara orang-orang baru dengan suasana yang berbeda.
Di kota ini aku belajar banyak hal, budaya, bahasa dan tata krama. Waktu awal datang kesini, aku nggak begitu kaget sih mendengar cara mereka berbicara atau berkomunikasi yang begitu spontan dan ekspresif, karna rata-rata orang sumatera juga begitu. Cuma yang bikin aku bingung. "Kita" disini artinya "Kamu".
Misalnya :
Kita mau kemana?, itu artinya Kamu mau kemana? (Kita disini bukan Aku dan Dia atau orang yang bertanya)
Agak bingung diawal sih, tapi lama-lama terbiasa juga. Mereka juga punya partikel yang sangat khas, yaitu "mi" dan "ji"
Misalnya :
Makan mi, Itu ji, Kita ambil mi!
Aku kurang pandai menjelaskannya, cuma penggunaan mi dan ji ini khas banget dalam bahasa mereka.
Di kota ini juga aku semakin mengenal diriku. Aku belajar untuk tampil dan lebih percaya diri. Aku juga menjadi lebih ambisius, karna ada mimpi yang harus aku kejar dan wujudkan. Dan di kota Makassar, aku menemukan dunia yang hangat karna teman-teman yang aku temukan disini, begitu baik, peduli dan perhatian.
Aku juga menemukan versi diriku yang lebih tenang, karna aku belajar cara mengikhlaskan dan menerima bahwa sesuatu yang udah terjadi adalah proses untuk hari yang baik di depan. Aku juga belajar untuk berhenti mengulang kata "Seandainya". Pikiran yang membuatku terus hidup di masa lalu. Karna di kota ini aku mengalami banyak kegagalan-kegagalan yang jadi pelajaran. Aku juga menemukan satu titik cerah masa depan di kota ini. Jadi meski cuma tinggal sebentar kota ini sangat berkesan bagiku.
Aku bakal kangen Coto Makassar, pallubasa dan sop konro. Bumbunya kuat, kuahnya pekat, dan aromanya bikin candu. juga bakal kangen sama es pisang ijo 10 ribuan dekat kosan di jalan sungai poso.
![]() |
Aku juga bakal kangen teman-teman disini, aku juga banyak belajar hal baru, ilmu dan pengalaman yang benar-benar bermanfaat buatku. sampai ketemu lagi Makassar. Penuh kesan, memori dan kenangan. Suatu saat aku akan balik lagi, bukan sebagai pejuang tapi pemenang, eaaaak, hahaha. see u Makassar.



Komentar
Posting Komentar